Tentara Bayaran Rusia Disebut Bantu Kamboja Perang Lawan Thailand, Moskwa Membantah
Beritadunia.id — Bangkok/Phnom Penh/Moskow — Isu keterlibatan tentara bayaran Rusia dalam konflik bersenjata yang sedang berlangsung antara Thailand dan Kamboja kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah media di Thailand melaporkan bahwa Rusia dikabarkan telah menyediakan tentara bayaran guna membantu pihak Kamboja dalam pertempuran di sepanjang perbatasan yang disengketakan. Laporan ini memicu respons tegas dari otoritas Rusia dan Pemerintah Kamboja yang sama-sama membantah keterlibatan pasukan asing dalam konflik tersebut.
Perkembangan ini hadir di tengah eskalasi ketegangan militer yang semakin meningkat antara kedua negara sejak awal Desember 2025, ketika bentrokan bersenjata kembali pecah setelah periode gencatan senjata yang sebelumnya ditempuh.
Tuduhan Media Thailand soal Tentara Bayaran Rusia
Sejumlah outlet media Thailand belakangan memberitakan bahwa pemerintah Kamboja dilaporkan telah merekrut tentara bayaran asal luar negeri, termasuk dari Rusia, untuk membantu dalam operasi militer menghadapi pasukan Thailand di perbatasan. Isu keterlibatan tentara bayaran ini juga dikaitkan dengan dugaan peran spionase, dukungan teknis, dan operasi militer lainnya di medan konflik.
Menurut laporan tersebut, oknum tentara bayaran disebut melakukan perjalanan masuk melalui Thailand untuk kemudian bertempur bersama pasukan Kamboja, sebuah klaim yang jika benar akan menjadi eskalasi baru dalam konflik yang sudah memakan korban dan menimbulkan gelombang pengungsian besar-besaran di kedua sisi.
Namun, laporan ini tidak menyertakan bukti konkret atau sumber resmi yang dapat diverifikasi secara independen, sehingga memunculkan tanda tanya di kalangan pengamat internasional dan diplomatik.
Moskow Bantah Keterlibatan Warganya
Menanggapi kabar yang berkembang, Kedutaan Besar Rusia di Thailand secara resmi membantah tuduhan bahwa warga Rusia direkrut sebagai tentara bayaran untuk berperang di pihak Kamboja. Dalam pernyataannya, pihak kedutaan menegaskan bahwa klaim tersebut tidak berdasar dan berpotensi merusak hubungan bilateral Rusia dengan kedua negara di kawasan tersebut.
Rusia menegaskan bahwa warganya yang saat ini berada di Thailand atau negara lain di kawasan itu berada semata-mata untuk kegiatan sipil seperti wisata, bisnis, atau sebagai pekerja profesional, dan tidak ada warga Rusia yang terlibat dalam pertempuran atau berperan sebagai penasihat militer untuk angkatan bersenjata Kamboja.
Lebih jauh, Kedutaan Rusia menilai pemberitaan mengenai tentara bayaran ini kemungkinan merupakan rumor yang tidak memiliki dasar kuat dan lebih mungkin berasal dari pihak non-regional yang ingin mengaburkan situasi konflik. Pernyataan tersebut juga memperingatkan bahwa tuduhan semacam ini dapat berdampak negatif terhadap hubungan persahabatan tradisional antara Rusia dengan Thailand dan Kamboja.
Kamboja Juga Menolak Klaim Rekrut Pasukan Asing
Pemerintah Kamboja, melalui pernyataan Ketua Senat dan mantan Perdana Menteri Hun Sen, turut menolak keras tuduhan bahwa negara tersebut merekrut tentara bayaran dari Rusia atau negara lain di luar negeri. Hun Sen menegaskan bahwa Kamboja tidak pernah menampung pasukan asing di wilayahnya sejak penarikan pasukan UNTAC pada 1993, dan tidak ada warga asing yang berperang di pihak tentara Kamboja pada konflik saat ini.
Menurut pernyataan Hun Sen yang dikutip dari media, tuduhan semacam itu merupakan informasi yang tidak akurat dan dapat merusak martabat negara serta hubungan internasional. Ia menegaskan bahwa warga asing yang berada di Kamboja saat ini hanyalah turis, investor, teknisi, atau pekerja perusahaan asing, dan tidak terlibat dalam kegiatan militer apa pun.
Latar Belakang Konflik Thailand–Kamboja
Konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja yang kembali memanas pada Desember 2025 merupakan lanjutan dari sengketa wilayah perbatasan yang panjang, khususnya di sekitar kawasan bersejarah seperti Preah Vihear, dan eskalasi tak kunjung reda meskipun beberapa upaya mediasi telah dilakukan.
Bentrok militer ini ditandai oleh penggunaan artileri, udara, dan serangan darat di sejumlah titik perbatasan yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa di kedua sisi serta ribuan warga sipil mengungsi dari rumah mereka.
Negara-negara tetangga dan komunitas internasional telah menyerukan agar kedua pihak menahan diri dan kembali ke meja perundingan, namun situasi di lapangan tetap tegang. Beberapa pihak bahkan menyebut konflik ini sebagai salah satu yang paling serius di kawasan Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir.
Reaksi Internasional dan Seruan Perdamaian
Menanggapi eskalasi ini, utusan diplomatik asing termasuk dari Rusia juga menyerukan agar Thailand dan Kamboja menerapkan gencatan senjata dan menyelesaikan sengketa secara damai. Dalam pernyataan terpisah, Duta Besar Rusia untuk Kamboja, Anatoly Borovik, mengimbau kedua negara untuk menahan penggunaan kekerasan dan melanjutkan dialog demi mencegah jatuhnya lebih banyak korban serta kerusakan infrastruktur.
Pernyataan ini juga menegaskan dukungan Rusia terhadap penyelesaian perselisihan secara damai dan sesuai prinsip hukum internasional, menggarisbawahi pentingnya diplomasi di tengah konflik yang menunjukkan risiko kemanusiaan yang tinggi.
Potensi Dampak dan Tantangan
Tuduhan keterlibatan tentara bayaran asing dalam konflik semacam ini, sekalipun dibantah, menunjukkan betapa kompleksnya situasi perang modern yang mudah dipengaruhi oleh informasi yang tidak terverifikasi. Isu tentara bayaran sering kali muncul dalam konflik global dan bisa digunakan sebagai alat propaganda atau strategi disinformasi untuk mengubah persepsi publik atau menekan lawan politik.
Kedua negara tetap menghadapi tantangan besar dalam meredakan konflik, terutama jika muncul klaim yang dapat memperkeruh suasana dan berdampak pada hubungan diplomatik bilateral maupun regional.

