Gedung Putih “Labeli” Seluruh Presiden AS, Biden Disebut Presiden Terburuk
Beritadunia.id — WASHINGTON, DC — Gedung Putih kini menjadi sorotan dunia setelah memasang deretan plakat baru di bawah potret mantan Presiden Amerika Serikat (AS) yang dinilai sangat kontroversial. Di antara pesan-pesan yang tertulis, nama Joe Biden mendapat label tajam sebagai “presiden terburuk dalam sejarah Amerika”, sebuah klaim yang dikaitkan dengan kebijakan administrasi terbaru di Gedung Putih.
Perubahan ini terjadi di colonnade selatan Gedung Putih, di bagian yang kini disebut Presidential Walk of Fame. Plakat-plakat tersebut bukan sekadar deskripsi formal tentang jasa pemerintahan — beberapa di antaranya berisi kritik politik yang jelas dan bersifat partisan terhadap para mantan pemimpin Amerika.
Isi Plakat dan Pesan yang Tersirat
Salah satu aspek paling menonjol dalam pemasangan ini adalah teks yang dicantumkan di bawah nama Joe Biden — yang menjabat sebagai Presiden AS sebelum masa jabatan saat ini — di mana klaim tajam dilontarkan mengenai efektivitas kepemimpinannya. Klaim ini termasuk penilaian sangat negatif terhadap kebijakan ekonomi, isu luar negeri, hingga penilaian pribadi yang sifatnya memicu perdebatan.
Beberapa plakat lain juga menyebut mantan Presiden Barack Obama sebagai sosok yang “membagi masyarakat Amerika” dan menonjolkan kontroversi tertentu selama masa jabatannya, tanpa menyajikan uraian objektif tentang prestasi pemerintahan tersebut.
Latar Belakang Presidential Walk of Fame
Komisi pemasangan plakat ini sebenarnya merupakan bagian dari apa yang disebut Presidential Walk of Fame — sebuah galeri sejarah yang dikembangkan oleh pihak Gedung Putih, menampilkan potret para presiden AS lengkap dengan plakat yang berisi penilaian atau deskripsi singkat tentang masa jabatan mereka.
Meskipun gagasan awalnya dimaksudkan untuk melihat perjalanan sejarah kepemimpinan AS dalam satu jalur yang terintegrasi, pemasangan deskripsi editorial seperti yang terlihat saat ini telah memicu kritik tajam baik dari dalam maupun luar negeri.
Reaksi Masyarakat dan Tokoh Publik
Tindakan ini langsung memancing reaksi keras dari sejumlah tokoh publik di Amerika dan luar negeri. Banyak komentator politik mengatakan bahwa Gedung Putih seharusnya mempertahankan netralitas dalam penyajian sejarah calon kepemimpinan nasional, dan bukan menyajikan narasi partisan yang dapat memperdalam polarisasi politik.
Beberapa pakar sejarah juga memperingatkan bahwa memuat kritik subjektif semacam ini dalam konteks museum atau galeri resmi negara dapat mengaburkan pemahaman objektif terhadap sejarah dan peran para presiden bagi publik.
Kritik terhadap Objektivitas Sejarah
Kritikus lain menyoroti bahwa pemerintah yang sedang berkuasa seharusnya tidak memanfaatkan fasilitas kenegaraan untuk membentuk narasi sejarah di luar fakta yang dapat diverifikasi. Menurut mereka, sejarah kepresidenan AS seharusnya ditulis berdasarkan penelitian akademis dan penilaian profesional — bukan berdasarkan opini politik pribadi.
Permasalahan yang muncul bukan hanya pada penggunaan istilah “terburuk dalam sejarah”, tetapi juga pada konteks lain yang dibawa dalam teks plakat yang menyinggung kejadian politik tertentu ataupun kebijakan yang tetap menjadi perdebatan tajam di masyarakat.
Narasi Politik di Balik Plakat
Nama—nama tertentu yang muncul dalam deretan plakat juga mencerminkan kecenderungan politik tertentu. Beberapa plakat dipenuhi dengan kata-kata tajam dan menyinggung masalah faksi, sedangkan yang lain cenderung menonjolkan prestasi atau klaim positif tentang pemerintahan yang sejalan dengan ide politik tertentu.
Fenomena ini menunjukkan bahwa narasi sejarah dan politik kini semakin bersinggungan dalam ruang publik resmi, dan menimbulkan pertanyaan besar tentang bagaimana sebuah negara seharusnya mencatat masa lalunya.
Perbandingan dengan Penilaian Sejarah Akademis
Sementara Gedung Putih menggunakan narasi yang sengaja provokatif, catatan historis dari berbagai lembaga independen justru menempatkan penilaian terhadap prestasi para presiden berdasarkan kriteria yang kompleks seperti kebijakan luar negeri, ekonomi, dan dampak sosial jangka panjang.
Dalam survei sejarah yang dilakukan oleh akademisi, misalnya, penilaian tentang Joe Biden berada pada kisaran tengah di antara para presiden AS lainnya, jauh dari label “terburuk” yang dipampang di sebuah plakat resmi.
Dampak terhadap Persepsi Publik dan Politik Amerika
Pemasangan plakat ini diperkirakan akan memperkuat garis perpecahan politik di AS, di mana kelompok yang sepakat dengan pandangan pemerintah saat ini mungkin menyambut narasi tersebut, sementara kelompok lain akan melihatnya sebagai propaganda politik yang menjauhkan dialog yang sehat dalam demokrasi.
Fenomena ini juga menunjukkan bagaimana simbol kenegaraan — baik itu galeri, monumen, ataupun museum — dapat dipolitisasi jika tidak diatur dengan batasan yang jelas terhadap objektivitas sejarah.
Kesimpulan: Warisan Sejarah dalam Kontroversi
Kebijakan pemasangan plakat kontroversial di Gedung Putih merupakan salah satu contoh bagaimana sejarah dan politik modern saling terkait erat. Dengan menyebut Presiden Joe Biden sebagai “terburuk” dan menyertakan kritik tajam terhadap beberapa pemimpin sebelumnya, Gedung Putih telah menciptakan sebuah ruang naratif yang memicu perdebatan panas di kalangan publik dan akademisi internasional.
Peristiwa ini menjadi cerminan betapa pentingnya keseimbangan antara penulisan sejarah yang objektif dan kebebasan berekspresi dalam ruang kenegaraan — terutama oleh institusi tertinggi sebuah negara.

