Tiga Pekan Pascabanjir, Listrik dan Sinyal di Aceh Timur Masih Sulit
Beritadunia.id – Tiga pekan setelah banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Aceh pada akhir November 2025, masalah krisis pasokan listrik dan layanan sinyal telekomunikasi masih dirasakan luas oleh masyarakat, terutama di kawasan terpencil seperti Aceh Timur. Meski beberapa upaya pemulihan telah dilakukan, kondisi infrastruktur yang rusak berat masih menghambat normalisasi layanan publik ini.
Banjir yang dipicu cuaca ekstrem dan diperparah oleh fenomena Cyclone Senyar telah menghancurkan jaringan transmisi listrik dan infrastruktur jaringan komunikasi di sejumlah kabupaten di Aceh, termasuk Aceh Timur, Aceh Tamiang, dan kabupaten sekitarnya. Akibatnya, pasokan listrik yang vital untuk kehidupan sehari-hari belum sepenuhnya pulih di banyak titik.
Dampak Kerusakan Infrastruktur Kelistrikan
Kerusakan terjadi di sejumlah bagian jaringan listrik utama di provinsi Aceh, antara lain robohnya menara saluran tegangan tinggi dan putusnya sambungan distribusi listrik ke desa-desa. Hal ini menyebabkan sebagian besar wilayah masih mengalami pemadaman listrik, bahkan lebih dari tiga minggu pascabanjir.
Menurut data Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Aceh, sekitar 60 persen wilayah Indonesia bagian paling barat tersebut masih gelap akibat pemadaman, karena reparasi infrastruktur berjalan lambat karena medan sulit dan cuaca yang belum sepenuhnya kondusif.
Beberapa kabupaten seperti Aceh Tamiang, Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tengah secara khusus disebut masih mengalami pemadaman bergilir karena kerusakan pada jaringan tegangan rendah yang belum sepenuhnya diperbaiki.
Upaya Pemulihan Listrik di Tengah Kondisi Sulit
Meski kondisi listrik masih belum stabil di sejumlah daerah, upaya pemulihan terus dilakukan oleh PT PLN (Persero) bersama instansi terkait. Sejumlah langkah teknis antara lain:
- Restorasi jaringan backbone listrik Aceh ke sistem Sumatra, yang memungkinkan aliran listrik utama kembali terkoneksi, meskipun distribusi ke wilayah pedesaan masih terhambat.
- Pengiriman teknisi dari luar daerah dan pemasangan gardu listrik baru untuk mempercepat perbaikan jaringan listrik yang rusak.
- Koordinasi antara pemda dan pihak PLN untuk memprioritaskan perbaikan jaringan di wilayah terdampak parah.
Namun, kendala medan yang rusak parah, cuaca, serta akses jalan yang terputus terus memperlambat pemulihan total layanan listrik di banyak desa terdampak.
Krisis Sinyal dan Komunikasi
Selain kelistrikan, jaringan telekomunikasi di Aceh Timur dan sekitarnya juga mengalami gangguan berat pascabanjir. Tower jaringan seluler rusak atau kehilangan pasokan listrik sehingga layanan sinyal menjadi sangat buruk atau bahkan tidak tersedia di sejumlah desa. Hal ini membuat komunikasi antara warga dengan pihak luar menjadi sangat sulit, bahkan beberapa desa harus bergantung pada jaringan satelit atau koneksi alternatif untuk berkomunikasi.
Gangguan sinyal tidak hanya berdampak pada komunikasi pribadi tetapi juga mempengaruhi ketersediaan informasi darurat maupun pemberitahuan tentang bantuan. Warga di daerah terpencil seperti Gampong Bukit Seuleumak di Kecamatan Birem Bayeun terpaksa pergi ke warung yang memiliki genset dan sinyal satelit untuk mengakses internet demi mengikuti ujian sekolah secara daring.
Kehidupan Sehari-hari yang Terpengaruh
Ketiadaan listrik dan sinyal selama berpekan-pekan membawa dampak luas dalam kehidupan masyarakat. Beberapa di antaranya:
- Sistem pendidikan terganggu, karena siswa terpaksa mencari tempat dengan listrik dan internet untuk menyelesaikan tugas daring atau ujian online.
- Akses layanan kesehatan dan informasi darurat menjadi terbatas di daerah tanpa jaringan komunikasi.
- Usaha lokal dan perdagangan kecil kesulitan beroperasi karena ketergantungan pada listrik dan transaksi digital.
- Transportasi dan bantuan logistik lanjut sedikit melambat seiring dengan buruknya koordinasi komunikasi antar tim bantuan di lapangan.
Warga terpaksa beradaptasi dengan kondisi sulit ini, termasuk mengandalkan lampu baterai, genset kecil, atau jaringan komunikasi alternatif untuk kebutuhan darurat.
Peran Pemerintah dan TNI/Instansi dalam Pemulihan
Pemerintah pusat dan daerah telah berupaya keras mempercepat pemulihan kondisi pascabanjir di Aceh. Presiden RI, bersama kementerian terkait, menegaskan perlunya percepatan pemulihan layanan energi dan komunikasi di wilayah bencana untuk meminimalisir dampak lanjutan terhadap kehidupan masyarakat.
Selain itu, TNI Angkatan Udara ikut membantu dengan pengiriman logistik dan tiang listrik ke wilayah yang tidak dapat diakses melalui jalur darat, sebagai bagian dari upaya percepatan normalisasi jaringan listrik di daerah seperti Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah.
Peran tim teknis dari luar Aceh juga dikerahkan untuk mempercepat proses perbaikan gardu listrik yang rusak dan memastikan keamanan pemasangan jaringan di area rawan longsor dan banjir.
Tanggapan Warga dan Kebutuhan Mendatang
Warga terdampak mengakui bahwa dukungan yang terus berjalan dari pemerintah dan instansi terkait sangat berarti. Namun sejumlah penduduk juga menyampaikan kekhawatiran bahwa pelayanan publik seperti listrik dan jaringan internet perlu dipulihkan secara merata — tidak hanya di pusat kota tetapi juga ke daerah tersebar yang jauh dari akses utama.
Beberapa komunitas lokal menggalang solidaritas mandiri seperti dapur umum, pengisian daya power bank bersama, dan alat komunikasi mobile hotspot untuk saling membantu tetangga yang masih mengalami kesulitan.
Perkiraan Waktu Normalisasi
Menurut laporan terbaru dari pihak energi dan jaringan nasional serta PLN, proses pemulihan total layanan kelistrikan diperkirakan memerlukan waktu tambahan hingga beberapa minggu ke depan, tergantung kondisi medan, perbaikan infrastruktur, dan cuaca.
Distribusi listrik secara bertahap telah mencapai sebagian besar desa terdampak, namun beberapa ratus desa masih belum teraliri listrik karena jaringan distribusi yang masih rusak berat.
Sementara itu, pemulihan jaringan komunikasi menjadi prioritas tambahan agar warga dapat kembali mengakses layanan digital, kesehatan, pendidikan, dan informasi dengan lebih mudah.
Kesimpulan
Tiga pekan pascabanjir besar yang melanda Aceh Timur dan wilayah Sumatra lainnya menunjukkan bahwa pemulihan layanan listrik dan sinyal telekomunikasi masih merupakan tantangan besar. Meski sebagian besar jaringan utama telah disambungkan kembali, distribusi ke daerah terpencil dan layanan komunikasi masih jauh dari normal. Pemulihan secara menyeluruh membutuhkan kerja keras, kolaborasi antarlembaga, serta kesiapan logistik yang terus ditingkatkan.
Dalam situasi kritis ini, masyarakat tetap bertahan melalui berbagai alternatif dan solidaritas, sementara pemerintah mempercepat pemulihan agar kehidupan sosial, ekonomi, dan pendidikan dapat kembali berjalan normal secepat mungkin.

