Daftar Perang Paling Dahsyat Sepanjang 2025, Ada Dekat Indonesia
Beritadunia.id — JAKARTA — Sepanjang tahun 2025, sejumlah konflik bersenjata di berbagai belahan dunia menjadi sorotan utama dunia internasional karena intensitas, korban yang tinggi, serta dampaknya terhadap stabilitas regional dan global. Beberapa perang bahkan terjadi di kawasan yang relatif dekat dengan Indonesia, memicu kekhawatiran tentang implikasi keamanan di Asia Tenggara dan sekitarnya. Analisis terhadap konflik-konflik ini memberikan gambaran mengapa perang tetap menjadi salah satu tantangan terbesar dunia di era modern.
1. Perang Rusia–Ukraina: Konflik Paling Mematikan di 2025
Salah satu perang paling kondang di 2025 adalah lanjutan konflik antara Rusia dan Ukraina yang sudah berlangsung sejak 2022. Menurut data pemantauan konflik global, perang ini menjadi salah satu konflik dengan jumlah korban terbesar sepanjang tahun ini. Laporan terbaru menyatakan bahwa konflik telah menewaskan puluhan ribu orang di kedua belah pihak, termasuk militer dan warga sipil, meski ada berbagai upaya diplomatik untuk menghentikannya.
Perang ini tidak hanya merusak infrastruktur dan menimbulkan krisis kemanusiaan di Eropa Timur, tetapi juga berdampak pada geopolitik global. Misalnya, negara-negara anggota NATO dan Uni Eropa terus meningkatkan dukungan militer dan ekonomi kepada Ukraina, sementara Rusia mengintensifkan operasinya di beberapa wilayah garis depan.
2. Konflik Dua Negara ASEAN: Thailand–Kamboja
Dekat dengan Indonesia, salah satu konflik yang memicu keprihatinan di ASEAN adalah konflik Thailand–Kamboja yang kembali meletus sepanjang 2025. Pertikaian lama terkait wilayah perbatasan antara kedua negara ini kembali meningkat sejak pertengahan tahun, melibatkan bentrokan bersenjata, penggunaan artileri, dan pengrusakan wilayah strategis di sepanjang perbatasan.
Konflik ini menimbulkan dampak langsung pada masyarakat sipil, terutama di daerah perbatasan yang ramai dihuni warga. Ribuan orang terpaksa mengungsi karena keamanan yang terus memburuk. Selain itu, insiden-insiden kecil menunjukkan bahwa perang bisa menyebar lebih luas jika dibiarkan tanpa solusi diplomatik yang kuat.
ASEAN dan PBB telah melakukan upaya mediasi untuk menahan eskalasi konflik ini, dengan harapan agar kedua negara menghormati gencatan senjata dan menyelesaikan perselisihan melalui dialog.
3. Perang di Afrika: Bukavu Offensive dan Wilayah Kongo
Di Afrika, salah satu konflik paling intens di 2025 adalah offensive yang dilakukan oleh kelompok militan M23 di Republik Demokratik Kongo (DRC), khususnya di wilayah Bukavu dan Goma. Kampanye militan ini menandai eskalasi besar dalam perang berkepanjangan di wilayah timur DRC, di mana berbagai kelompok bersenjata memperebutkan kendali atas sumber daya mineral dan rute logistik penting.
Serangan ini menyebabkan ribuan korban tewas dan ratusan ribu orang mengungsi, serta menimbulkan kekhawatiran akan destabilitas lebih luas di kawasan Great Lakes Afrika. Konflik ini juga menarik perhatian komunitas internasional karena dampaknya terhadap bantuan kemanusiaan, perdagangan, dan upaya perdamaian yang berkelanjutan.
4. Battle of Lake Chad: Konflik Militan di Afrika Barat
Perang lain yang juga sangat berdarah pada 2025 adalah Battle of Lake Chad, di mana kelompok militan seperti Boko Haram dan Islamic State West Africa Province (ISWAP) saling berperang untuk menguasai wilayah di sekitar perairan Danau Chad di Nigeria. Pertempuran ini berlangsung sengit selama beberapa hari, dengan ratusan korban tewas.
Konflik ini bukan hanya melibatkan dua faksi militan, tetapi juga telah menarik perhatian militer dan pemerintah negara-negara tetangga yang khawatir akan meluasnya perang ke wilayah mereka. Dampaknya termasuk gangguan terhadap keamanan lokal, penurunan stabilitas sosial, serta kebutuhan bantuan kemanusiaan yang meningkat.
5. Israel–Hezbollah & Konflik Timur Tengah
Sementara konflik utama sudah berakhir di beberapa front, ketegangan di Timur Tengah terus memicu aksi militer berkelanjutan. Salah satunya termasuk serangan udara dan bentrokan antara Israel dan kelompok Hezbollah di Lebanon, yang menimbulkan korban di kedua sisi dan menjadi isu penting dalam dinamika keamanan regional.
Meski perang skala penuh antara negara-negara besar belum muncul, serangkaian konflik kecil dan tekanan militer yang terus berlangsung membuat kawasan itu tetap kurang stabil dan rentan terhadap eskalasi lebih lanjut.
6. Krisis Kemanusiaan di Mozambik
Selain konflik berbasis negara, pertempuran antara militan Islamic State dan pasukan pemerintah di Mozambik telah menciptakan salah satu kekacauan paling suram di Afrika. Konflik ini telah menyebabkan ratusan ribu orang mengungsi dan menimbulkan krisis kemanusiaan yang parah di wilayah Cabo Delgado.
Pemberontakan militan yang intens telah melemahkan kontrol pemerintah setempat, mendesak intervensi dari pasukan luar negeri dan mendatangkan tekanan internasional untuk mencari solusi damai.
Dampak Konflik terhadap Stabilitas Global dan Regional
Konflik-konflik besar 2025 di atas menunjukkan bahwa dunia masih menghadapi era ketidakpastian geopolitik yang intens. Dampak dari perang semacam ini meliputi:
📌 Krisis Kemanusiaan
Perang sering kali menimbulkan gelombang besar pengungsi dan pengungsi internal yang memperburuk situasi sosial dan kesehatan, baik di negara konflik maupun negara tetangga yang menerima arus pengungsi.
📌 Tekanan Ekonomi
Konflik besar mempengaruhi perdagangan internasional, investasi asing, serta harga komoditas global. Misalnya, perang di Ukraina dan gangguan rantai pasokan energi telah mempengaruhi harga minyak, gas, dan pangan secara global.
📌 Keamanan Regional
Pertikaian seperti konflik Thailand–Kamboja memperlihatkan bagaimana perang di kawasan ASEAN bisa berdampak pada so-demand keamanan negara tetangga termasuk Indonesia, yang berpotensi merespons tekanan diplomatik dan upaya perdamaian regional.
📌 Diplomasi dan Intervensi Internasional
Negara-negara besar dan organisasi internasional terus mendorong penyelesaian damai melalui mekanisme multilateral, termasuk ASEAN, PBB, dan perundingan bilateral untuk meredakan konflik.
Tantangan Menuju Perdamaian Abadi
Mencapai solusi damai bagi konflik besar 2025 menjadi tantangan multilapis. Selain perbedaan politik dan ideologis, perang modern sering dipicu oleh persaingan sumber daya, perhatian geopolitik besar, dan respon internasional yang tidak seragam.
Upaya diplomatik seperti gencatan senjata, embargo senjata, serta mediasi ASEAN untuk konflik di Asia Tenggara menjadi bukti bahwa solusi damai harus mencakup kerjasama lintas negara dan dialog terus-menerus.
Kesimpulan
Tahun 2025 mencatat sejumlah perang dan konflik paling dahsyat di dunia, termasuk perang besar seperti Rusia–Ukraina, intrik regional seperti Thailand–Kamboja, serta konflik berskala tinggi di Afrika seperti di DRC dan Lake Chad. Dampaknya tidak hanya terasa di wilayah konflik itu sendiri, melainkan juga di tingkat global melalui krisis kemanusiaan, tekanan ekonomi, dan tantangan keamanan internasional.
Solusi damai tetap menjadi prioritas dunia internasional, tetapi hal itu membutuhkan tekad diplomatik kuat dari berbagai negara dan organisasi multilateral untuk meredakan ketegangan sekaligus membangun stabilitas jangka panjang di berbagai wilayah yang dilanda konflik.

