2025, Tahun Paling Sukses dalam Sejarah Suriah
DAMASKUS — Beritadunia.id — Tahun 2025 digambarkan sebagai momen bersejarah bagi Republik Suriah, setelah melewati dekade konflik, isolasi internasional, dan kekacauan sosial politik yang panjang. Warga dan pengamat kini melihat 2025 sebagai titik balik penting dalam sejarah negara itu — tren yang tampaknya tak terduga beberapa tahun sebelumnya.
Penggulingan rezim Assad yang telah berlangsung selama lebih dari lima dekade membawa era baru bagi Suriah. Ketika warga merayakan ulang tahun pertama pasca kejatuhan Bashar al-Assad, optimisme dan rasa harapan kembali menguat secara luas di berbagai kota seperti Damaskus, Homs, dan Aleppo.
Latar Belakang Sejarah Suriah
Untuk memahami signifikansi 2025, penting melihat sejarah panjang pemerintahan Assad di Suriah. Rezim Assad berkuasa sejak kudeta militer yang dipimpin Hafez al-Assad pada November 1970. Beliau kemudian menjadi presiden pada Maret 1971, memulai era kekuasaan otoriter yang diwariskan kepada putranya Bashar al-Assad. Selama lebih dari setengah abad, Suriah mengalami penindasan politik, isolasi internasional, dan konflik berkepanjangan yang berpuncak pada perang saudara sejak 2011.
Perang Suriah telah merusak tatanan sosial, menghancurkan infrastruktur, memicu krisis pengungsi besar-besaran, dan menyebabkan puluhan ribu korban jiwa di berbagai kelompok masyarakat. Namun dengan kejatuhan rezim Assad pada Desember 2024 dan pembentukan pemerintahan transisi di bawah Presiden Ahmed al-Sharaa, Suriah mencetak awal yang sama sekali baru.
Revolusi Suriah dan Momentum Baru
Pada 8 Desember 2024, rezim Assad tumbang setelah lebih dari dua dekade berkuasa. Sejak itu, pemerintahan baru fokus pada restrukturisasi politik dan membuka babak baru hubungan luar negeri Suriah. Momen ini dirayakan oleh rakyat Suriah sebagai simbol kebebasan dari kekuasaan yang represif.
Revolusi yang dipimpin oleh koalisi oposisi Suriah mencapai puncaknya pada awal 2025 saat konferensi kemenangan diadakan di Istana Presiden di Damaskus. Konferensi ini menetapkan prioritas pemerintahan transisi, termasuk pembentukan konstitusi baru dan pembangunan kembali institusi pemerintahan yang rusak.
Pemulihan Hubungan Diplomatik
Salah satu pencapaian paling menonjol Suriah di tahun 2025 adalah pemulihan hubungan diplomatik dengan negara-negara di kawasan dan dunia. Setelah bertahun-tahun isolasi setelah perang, Suriah kini membuka kembali kedutaan besar di sejumlah negara — termasuk Washington, D.C. — dan mulai kembali berpartisipasi pada forum internasional.
Negara-negara Eropa dan kawasan Timur Tengah juga melonggarkan hubungan diplomatik dengan Suriah, meskipun ketegangan dengan negara seperti Israel dan Iran masih bertahan. Dialog baru ini membuka peluang kerja sama politik, perdagangan, dan rekonstruksi ekonomi yang vital bagi masa depan Suriah.
Perubahan Ekonomi dan Peluang Investasi
Lebih dari sekadar upaya diplomatik, 2025 juga ditandai oleh pergeseran dalam kebijakan ekonomi Suriah. Negara mulai membuka pintu bagi investasi asing setelah bertahun-tahun berada di bawah sanksi berat yang membatasi hubungan ekonomi internasional. Beberapa negara bahkan mencabut atau melonggarkan sanksi mereka, memberikan peluang baru bagi pemulihan ekonomi.
Langkah ini termasuk inisiatif baru seperti program swap mata uang yang diumumkan oleh bank sentral Suriah untuk memulihkan stabilitas pound Suriah dan mengatasi tantangan finansial yang berlangsung bertahun-tahun.
Tantangan Sosial dan Kemanusiaan
Meski banyak pencapaian positif, Suriah tetap menghadapi tantangan kemanusiaan yang jelas. Krisis pangan, yang telah mempengaruhi jutaan warga, tetap menjadi masalah besar di dalam negeri. Ribuan warga terus menghadapi ketidakamanan pangan akibat efek berkelanjutan dari perang serta dampak perubahan iklim.
Selain itu, berbagai insiden keamanan dan radikalisme kelompok militan juga tetap menjadi ancaman. Serangan bom dan aksi kekerasan di kota-kota seperti Homs dan Aleppo telah meningkat, yang menunjukkan bahwa stabilitas internal masih rapuh di beberapa wilayah.
Migrasi dan Kembalinya Warga Suriah
Sebuah aspek penting dari narasi “tahun paling sukses” adalah trend kembalinya sebagian besar warga Suriah yang sebelumnya mengungsi akibat perang. Pemerintahan baru optimis bahwa jutaan orang akan kembali dalam waktu dekat setelah kondisi keamanan dan peluang ekonomi membaik.
Data terbaru menunjukkan bahwa puluhan ribu warga Suriah telah kembali secara sukarela ke negara mereka dari luar negeri sejak awal tahun, menunjukkan kepercayaan yang tumbuh terhadap prospek kehidupan baru pascakonflik.
Respon Komunitas Internasional
Komunitas internasional memainkan peran besar dalam perubahan Suriah tahun 2025. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Jerman menyatakan dukungan mereka terhadap proses transisi politik dan ekonomi Suriah, termasuk melalui pencabutan sanksi serta dorongan untuk reformasi yang inklusif dan demokratis.
Indonesia pun turut menyatakan dukungan penuh terhadap rakyat Suriah dalam proses pembangunan negara mereka secara demokratis, menyatakan dukungan dalam forum internasional.
Harapan Baru dan Masa Depan Suriah
2025 disebut sebagai tahun paling sukses dalam sejarah modern Suriah bukan karena negara itu bebas dari semua masalah, tetapi karena negara tersebut berhasil mengubah narasi panjang penderitaan dan perang menjadi momentum perubahan besar. Perayaan publik, pergerakan diplomatik, dan awal rekonstruksi ekonomi semuanya menunjukkan bahwa Suriah kini berada di jalur baru yang lebih menjanjikan.
Para analis mengamati bahwa momentum ini perlu dipertahankan melalui hal-hal seperti pemulihan keamanan, pembangunan infrastruktur, dan inklusi politik. Harmonisasi antar komunitas yang terpecah selama bertahun-tahun juga menjadi kunci agar Suriah dapat lepas sepenuhnya dari bayang-bayang konflik.
Kesimpulan
Tahun 2025 menjadi babak penting dalam sejarah Suriah — ditandai dengan perubahan besar setelah jatuhnya rezim Assad, peningkatan hubungan internasional, serta tanda-tanda pemulihan sosial dan ekonomi. Meski tantangan seperti krisis pangan dan keamanan tetap ada, momentum diplomatik dan optimisme publik mencerminkan harapan baru bagi rakyat Suriah yang telah lama menderita konflik.

