Indonesia dan Jepang Percepat Proyek Energi Bersih Lewat AZEC Expert Group Meeting
beritadunia.id – Kolaborasi Strategis Perkuat Transisi Energi Nasional
Pemerintah Indonesia dan Jepang semakin memperkuat kerja sama dalam pengembangan energi bersih melalui forum Asia Zero Emission Community – Expert Group Meeting (AZEC-EGM) ke-9. Pertemuan ini menjadi ajang strategis bagi kedua negara untuk mempercepat realisasi proyek-proyek energi ramah lingkungan yang berperan besar dalam mendukung target penurunan emisi dan ketahanan energi nasional.
AZEC dibentuk sebagai wadah kolaborasi antarnegara Asia dalam mewujudkan sistem energi rendah karbon. Indonesia dan Jepang memanfaatkan forum ini untuk menyatukan langkah teknis, kebijakan, dan pembiayaan agar proyek energi bersih bisa berjalan lebih cepat dan lebih efektif.
Proyek Ketenagalistrikan Jadi Prioritas
Dalam AZEC-EGM terbaru, Indonesia dan Jepang membahas sejumlah proyek kelistrikan yang dinilai krusial. Fokus utama mengarah pada pengembangan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan serta penguatan infrastruktur transmisi.
Beberapa proyek yang menjadi perhatian utama antara lain Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Sarulla, Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Hululais, jaringan transmisi listrik Jawa–Sumatera, serta Pembangkit Listrik Tenaga Sampah Legok Nangka. Proyek-proyek ini memegang peran penting dalam meningkatkan porsi energi bersih di bauran energi nasional.
Pembangkit listrik panas bumi terus menjadi tulang punggung energi hijau Indonesia. Dengan potensi panas bumi terbesar kedua di dunia, Indonesia ingin mengoptimalkan sumber daya tersebut melalui dukungan teknologi dan pendanaan dari Jepang.
PLTSa Legok Nangka Masuki Tahap Penting
Salah satu proyek yang mendapat perhatian khusus adalah PLTSa Legok Nangka. Proyek ini menargetkan penutupan pembiayaan pada akhir 2026. Jika semua tahapan berjalan sesuai rencana, fasilitas ini akan membantu mengatasi dua masalah sekaligus, yaitu penumpukan sampah dan kebutuhan listrik.
Melalui teknologi konversi sampah menjadi energi, proyek ini akan mengurangi volume limbah yang masuk ke tempat pembuangan akhir sekaligus menghasilkan listrik untuk jaringan nasional. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa energi bersih juga dapat bersinergi dengan pengelolaan lingkungan perkotaan.
Proyek Transmisi Jawa–Sumatera Perkuat Integrasi Energi
Indonesia dan Jepang juga mendorong percepatan pembangunan jaringan transmisi listrik Jawa–Sumatera. Proyek ini bertujuan mengalirkan energi terbarukan dari Sumatera, yang kaya panas bumi dan tenaga air, menuju pusat konsumsi terbesar di Pulau Jawa.
Dengan tersambungnya jaringan ini, Indonesia dapat memaksimalkan pemanfaatan energi bersih yang selama ini terhambat oleh keterbatasan infrastruktur. Proyek ini juga akan memperkuat stabilitas pasokan listrik nasional.
Green Ammonia Jadi Energi Masa Depan
Selain kelistrikan, AZEC-EGM juga menyoroti pengembangan green ammonia, khususnya di wilayah Aceh. Green ammonia merupakan bahan bakar dan bahan baku industri yang dihasilkan dari hidrogen hijau dan energi terbarukan, sehingga tidak menghasilkan emisi karbon dalam proses produksinya.
Indonesia melihat green ammonia sebagai peluang besar untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan membuka pasar ekspor baru di masa depan. Jepang mendukung pengembangan ini karena teknologi dan pasar mereka sangat siap menyerap produk energi bersih.
Standardisasi Kontrak Percepat Investasi
Untuk mempercepat realisasi proyek panas bumi, Indonesia mengusulkan pengembangan standar perjanjian jual beli listrik atau Power Purchase Agreement (PPA). Standar ini akan memberi kepastian hukum dan kepastian bisnis bagi investor.
Dengan kontrak yang lebih jelas dan seragam, proses negosiasi dapat berlangsung lebih cepat, biaya transaksi menurun, dan risiko proyek berkurang. Jepang menyambut positif langkah ini karena investor membutuhkan kepastian jangka panjang sebelum menanamkan modal besar di sektor energi.
Komitmen Jepang Dorong Enam Proyek Prioritas
Jepang menyatakan komitmen kuat untuk membantu mempercepat enam proyek utama yang masuk dalam kerangka kerja AZEC. Targetnya, proyek-proyek tersebut dapat menunjukkan kemajuan signifikan sebelum akhir tahun fiskal Jepang pada Maret 2026.
Dukungan Jepang tidak hanya berbentuk pendanaan, tetapi juga mencakup transfer teknologi, pendampingan teknis, serta penguatan kapasitas pengelolaan proyek.
Dampak Positif bagi Indonesia
Kerja sama ini memberi manfaat besar bagi Indonesia. Proyek energi bersih akan meningkatkan ketahanan energi, menurunkan emisi karbon, serta membuka peluang investasi baru. Selain itu, pengembangan energi terbarukan menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan industri berbasis teknologi hijau.
Dengan mempercepat proyek panas bumi, listrik bersih, dan green ammonia, Indonesia memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat energi hijau di Asia Tenggara.
Transisi Energi Jadi Agenda Utama
Indonesia menargetkan penurunan emisi secara signifikan dalam beberapa dekade ke depan. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah terus menggeser fokus dari energi fosil ke energi terbarukan. Kerja sama dengan Jepang melalui AZEC memberi dukungan strategis untuk mencapai target tersebut.
Kolaborasi ini juga memperlihatkan bahwa transisi energi tidak hanya membutuhkan komitmen nasional, tetapi juga kemitraan internasional yang kuat.
Kesimpulan
AZEC Expert Group Meeting ke-9 menegaskan keseriusan Indonesia dan Jepang dalam mempercepat proyek energi bersih. Dengan fokus pada panas bumi, transmisi listrik, pengolahan sampah menjadi energi, dan green ammonia, kedua negara membangun fondasi kuat menuju sistem energi rendah karbon.
Kerja sama ini akan mempercepat transisi energi Indonesia, memperkuat ketahanan energi nasional, dan membuka jalan bagi ekonomi hijau yang lebih berkelanjutan.

