Berita ViralBlogPolitikTeknologiWisata

Air India Lupa 13 Tahun Parkir Pesawat di Bandara, Ditagih Ongkos Rp 1,8 M

Beritadunia.id — Insiden langka terjadi di dunia penerbangan ketika maskapai nasional India, Air India, menemukan kembali salah satu pesawatnya yang telah lama terlupakan dan ternyata harus membayar tagihan parkir selama 13 tahun karena pesawat itu menumpuk biaya parkir di Bandara Internasional Kolkata. Kasus ini menjadi sorotan karena menunjukkan celah serius dalam pencatatan aset dan manajemen maskapai besar.

Insiden ini pertama kali terungkap ketika pihak bandara meminta Air India untuk memindahkan pesawat yang berada di sudut terpencil lapangan parkir sejak tahun 2012. Upaya pengecekan internal akhirnya mengungkapkan bahwa pesawat tersebut ternyata masih tercatat dalam inventaris maskapai selama lebih dari satu dekade.


Pesawat yang Terlupakan dan Rekam Jejaknya

Pesawat yang dimaksud adalah sebuah Boeing 737-200 dengan nomor registrasi VT-EHH — jet berusia sekitar 43 tahun yang sudah tidak aktif lagi sejak lebih dari sepuluh tahun lalu. Sebelumnya pesawat ini pernah beroperasi untuk India Post setelah diubah fungsi menjadi pesawat kargo, dan kemudian dinonaktifkan pada tahun 2012.

Sejak dinonaktifkan, VT-EHH diparkir di bagian jauh Bandara Internasional Netaji Subhas Chandra Bose (Kolkata) dan tetap berada di sana selama 13 tahun tanpa ada upaya yang jelas untuk menghapus namanya dari daftar aset atau menjualnya secara resmi. Akibatnya, pihak bandara terus mengenakan biaya parkir dan apron setiap tahun selama pesawat tidak bergerak.


Penyebab Kelalaian dan Laporkan Penemuan Kembali

Awalnya Air India mengaku tidak mengetahui keberadaan pesawat tersebut saat ditegur pihak bandara. Maskapai bahkan sempat membantah kepemilikan atas pesawat itu karena tidak tercatat dalam dokumen internal. Namun setelah dilakukan audit internal menyeluruh, maskapai menyimpulkan bahwa pesawat itu memang benar milik mereka.

CEO Air India Campbell Wilson mengaku bahwa pesawat tersebut hilang dari arsip karena perubahan struktur maskapai yang cukup kompleks, termasuk proses privatisasi, penggabungan dengan Indian Airlines, serta perubahan fungsi pesawat itu sendiri dari pesawat komersial ke pesawat kargo. Kesalahan administrasi dan pergantian staf sepanjang tahun diduga menjadi faktor utama hilangnya jejak aset ini.


Jumlah Tagihan yang Tak Disangka

Karena pesawat itu terlantar selama begitu lama, **Bandara Internasional Kolkata menagihkan biaya parkir sebesar hampir 1 crore rupee India (sekitar US$120.000 atau setara Rp1,8 miliar lebih tergantung kurs) kepada Air India. Total tagihan ini adalah akumulasi dari biaya parkir reguler tahunan selama 13 tahun lamanya.

Tagihan seperti ini biasanya diberikan dalam hitungan bulan atau tahun untuk pesawat aktif, tetapi jarangnya kasus seperti ini membuat jumlahnya kurang biasa. Meskipun nominalnya bisa terlihat relatif kecil dibandingkan dengan pendapatan maskapai besar, fakta bahwa pesawat itu “dilupakan” selama lebih dari satu dekade membuat kejadian ini menjadi bahan perbincangan luas.


Reaksi Pihak Air India

Pihak manajemen Air India telah mengakui bahwa kehilangan rekam jejak pesawat ini adalah sebuah oversight besar dalam manajemen aset mereka. Dalam catatan internal kepada karyawan, CEO kembali menekankan bahwa meskipun penghapusan pesawat dari inventaris maskapai tidak jarang terjadi ketika pesawat sudah lama dinonaktifkan, kasus ini unik karena pesawat tersebut benar-benar terlupakan tanpa ada pemberitahuan di sistem.

“Ini bukan hanya sekadar pesawat tua yang telah pensiun,” ungkap Wilson dalam keterangan yang dikutip media India. “Ini adalah sebuah Boeing 737 yang kami kira sudah keluar dari catatan, hingga akhirnya pihak bandara menghubungi kami untuk memintanya dipindahkan. Ini menunjukkan kebutuhan kita memperbaiki pengelolaan data aset perusahaan,” tambahnya.


Pemindahan dan Nasib Akhir Pesawat

Setelah tagihan dibayar, maskapai akhirnya menyetujui permintaan bandara untuk memindahkan pesawat itu dari Bandara Kolkata. Pada sekitar pertengahan November 2025, pesawat tersebut dipotong bagian-bagiannya (sayap dan ekor) agar bisa diangkut oleh kendaraan darat dan dibawa ke Bengaluru, India. Di sana, pesawat akan dijadikan sebagai bahan pelatihan untuk para teknisi dan insinyur perawatan pesawat di fasilitas yang sesuai.

Langkah ini sekaligus menyelesaikan masalah ruang parkir yang selama bertahun-tahun “dikonsumsi” oleh pesawat tanpa ada aktivitas. Bandara menyatakan bahwa area parkir lain kini bisa dimanfaatkan untuk fasilitas hangar atau posisi parkir lain yang lebih produktif.


Tinjauan Administrasi dan Pelajaran bagi Industri

Kasus Air India ini menuai perhatian besar dari kalangan industri penerbangan dan pengamat manajemen aset. Banyak yang mempertanyakan bagaimana sebuah maskapai besar bisa kehilangan jejak satu unit pesawatnya secara administratif selama lebih dari satu dekade. Kesalahan seperti ini tidak hanya berdampak pada biaya, tetapi juga menunjukkan kelemahan dalam sistem pencatatan dan manajemen inventaris.

Ahli manajemen operasi menyarankan agar perusahaan transportasi besar seperti maskapai lebih sering melakukan audit internal, pembaruan data aset secara berkala, dan sistem pelacakan yang lebih mutakhir agar kejadian serupa tidak terulang. Proses digitalisasi aset juga dianggap perlu untuk meminimalkan risiko human error dan hilangnya data fisik akibat pergantian staf atau sistem.


Dampak bagi Maskapai dan Bandara

Walaupun nominal tagihan tidak signifikan bila dibandingkan dengan biaya operasional maskapai besar seperti Air India, dampak reputasi tentu terasa pada situasi ini. Media dan publik internasional ramai menyoroti bagaimana maskapai nasional bisa lupa tentang keberadaan pesawatnya sendiri. Sementara dari sisi bandara, keputusan menagih tagihan parkir yang telah jatuh tempo selama bertahun-tahun menunjukkan keberanian dan ketegasan otoritas bandara dalam menegakkan aturan fasilitas parkir dan penggunaan lahan.


Kesimpulan dan Refleksi Akhir

Kasus yang terjadi di Bandara Internasional Kolkata ini menjadi pengingat kuat tentang pentingnya manajemen aset yang matang, sistem pencatatan digital yang terintegrasi, serta audit berkala dalam setiap perusahaan, terutama di industri besar seperti penerbangan. Kejadian di mana sebuah pesawat ditinggalkan selama 13 tahun tanpa disadari menunjukkan bahwa tidak ada sistem yang sempurna tanpa pengawasan manusia.

Bagi Air India, kejadian ini menjadi pelajaran penting untuk memperkuat prosedur internal dan mencegah kejadian serupa di masa depan, demi menjaga efisiensi operasional dan kredibilitas di mata penumpang, regulator, dan publik luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *