Tak Mau Bernasib seperti Venezuela, Kuba Gelar Latihan Perang
Beritadunia.id − Pemerintah Kuba mengambil langkah serius dalam meningkatkan kesiapsiagaan militernya dengan menggelar latihan militer besar-besaran, sebagai respons terhadap meningkatnya ketegangan geopolitik dan ancaman agresi dari Amerika Serikat. Menurut penjelasan Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel, latihan ini dilakukan tidak hanya untuk meningkatkan kemampuan tempur, tetapi juga sebagai bentuk sinyal kuat kepada kekuatan luar negeri bahwa Kuba siap mempertahankan kedaulatannya dan tidak ingin mengikuti jejak rezim yang runtuh di Venezuela.
Langkah yang dilakukan Havana ini mendapat perhatian luas karena konteks hubungan regional yang semakin kompleks di kawasan Amerika Latin dan Karibia. Ketegangan antara Kuba, Venezuela, dan Amerika Serikat telah menjadi salah satu isu keamanan internasional yang paling sensitif sepanjang awal tahun 2026.
Latar Belakang Latihan Militer Kuba
Latihan perang yang dilaksanakan di berbagai basis militer Kuba itu dipimpin langsung oleh Presiden Miguel Díaz-Canel, yang juga menjabat sebagai Komandan Tertinggi Angkatan Bersenjata Kuba. Dalam kegiatan tersebut, unit-unit tank dan pasukan darat dari Angkatan Bersenjata Revolusioner Kuba (FAR) terlibat dalam berbagai skenario latihan, termasuk operasi taktis dan simulasi pertahanan wilayah.
Presiden Díaz-Canel mengatakan bahwa latihan ini adalah bagian dari strategi pertahanan nasional yang lebih luas, yang dimaksudkan untuk mengirim pesan tegas kepada Amerika Serikat agar tidak mengulangi skenario yang menimpa Venezuela. Menurutnya, Kuba tidak ingin menjadi sasaran intervensi militer atau ancaman agresi luar negeri yang dapat mengguncang stabilitas negara.
Ancaman yang Dihadapi dan Ketegangan di Kawasan
Ketegangan yang sedang berlangsung terjadi di tengah meningkatnya tekanan dan pemberitaan tentang kemungkinan tindakan militer Amerika Serikat terhadap sekutu-sekutu strategisnya di kawasaan tersebut. Presiden AS Donald Trump dalam beberapa kesempatan memberikan sinyal keras kepada pemerintah negara-negara seperti Venezuela dan Cuba untuk memilih opsi negosiasi atau menghadapi risiko agresi militer dan paksaan strategi yang sama.
Venezuela sendiri merupakan sekutu penting bagi Kuba, terutama dari segi pasokan minyak, dukungan ekonomi, dan bantuan finansial. Ketika tekanan meningkat terhadap Venezuela, termasuk ancaman pemutusan hubungan perdagangan atau bahkan agresi militer, pemerintah Kuba menilai hal tersebut sebagai potensi ancaman langsung terhadap kelangsungan stabilitas nasionalnya sendiri.
Pernyataan Presiden Díaz-Canel
Díaz-Canel dalam sebuah pernyataan resmi yang disiarkan di televisi nasional menegaskan bahwa “cara terbaik untuk mencegah agresi adalah memastikan pihak luar mengetahui bahwa harga yang harus dibayar untuk menyerang Kuba akan sangat besar.” Ia menekankan bahwa persiapan militer yang kuat bukanlah tanda agresi, tetapi merupakan sarana defensif yang sah dalam hukum internasional untuk melindungi kedaulatan negara.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa pemerintah Kuba ingin menegaskan posisinya secara tegas dalam geopolitik regional yang semakin kompleks. Dia juga mengatakan bahwa latihan ini “sangat penting dalam keadaan saat ini” untuk menghadapi berbagai kemungkinan ancaman dan memastikan Kuba tidak berada dalam posisi rentan secara strategis.
Latihan Militer dalam Konteks Geopolitik
Praktik latihan militer untuk merespons ancaman eksternal bukan hal baru dalam hubungan internasional. Banyak negara menggunakan latihan sebagai cara untuk menunjukkan kesiapan dan ketidakmauan untuk menyerah pada tekanan luar, terutama ketika berkaitan dengan isu kedaulatan nasional dan intervensi asing.
Namun demikian, keputusan Kuba untuk memperkuat latihannya terjadi di tengah pergeseran geopolitik yang signifikan. Ketegangan antara Amerika Serikat dan negara-negara Amerika Latin telah meningkat secara tajam sejak insiden besar yang menimpa Venezuela pada awal Januari 2026, saat Presiden Venezuela Nicolas Maduro ditangkap oleh pasukan militer elite AS dalam sebuah operasi yang menjadi perhatian global.
Operasi tersebut memicu kritik dari sejumlah negara di kawasan dan internasional yang mengecam tindakan sepihak yang dinilai melanggar kedaulatan sebuah negara merdeka. Bahkan, beberapa negara di Amerika Latin seperti Brasil, Meksiko, dan Kolombia menyerukan perlindungan hukum internasional dan penghormatan terhadap kedaulatan negara pihak ketiga.
Reaksi Internasional terhadap Ketegangan AS-Amerika Latin
Situasi di Venezuela dan tekanan terhadap Cuba juga telah memicu reaksi dari berbagai negara dan organisasi internasional. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Antonio Guterres, menyerukan penghormatan terhadap hukum internasional dan menekankan bahwa kedaulatan negara adalah prinsip dasar yang harus dihormati dalam hubungan antarnegara.
Sementara itu, negara-negara sahabat dan sekutu sosial politik seperti Iran mengecam tindakan sepihak Amerika Serikat yang berusaha menutup wilayah udara Venezuela dan mengecam pendekatan militer yang agresif, menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional.
Respon Kuba terhadap Skenario Blokade dan Tekanan Ekonomi
Tidak hanya dari sisi militer, Kuba juga menghadapi tekanan ekonomi karena ketergantungannya pada pasokan minyak dan bantuan dari Venezuela. Berita terbaru sempat menyebutkan adanya diskusi dalam pemerintahan Amerika Serikat tentang kemungkinan blokade laut terhadap Kuba untuk membatasi impor minyak dan energi, yang jika diterapkan akan berdampak signifikan terhadap kondisi ekonomi internal negeri itu. Cuba bahkan menyebut ide blokade semacam itu sebagai “tindakan perang” dan pernyataan agresi yang brutal terhadap negara berdaulat.
Ketergantungan terhadap pasokan dari Venezuela—yang menyumbang hampir 40 persen kebutuhan minyak Kuba—menjadikan isu geopolitik itu tidak hanya soal militer, tetapi juga ekonomi dan stabilitas energi nasional bagi Havana.
Strategi Pertahanan dan Pertimbangan Politik
Latihan militer yang dilakukan Kuba bukan semata bentuk retorika, tetapi merupakan bagian dari strategi pertahanan nasional yang dirancang untuk memperluas kemampuan militer dalam menghadapi berbagai skenario ancaman.
Para analis hubungan internasional menyatakan bahwa langkah ini bisa dipandang sebagai bentuk deterrence defense—yaitu mengembangkan kemampuan militer sehingga pihak luar merasa ragu untuk melakukan aksi agresi karena potensi biaya politik dan militer yang tinggi. Sebuah negara kecil seperti Kuba dapat mencoba menjaga kedaulatannya dengan menunjukkan kesiapan dan kemampuan untuk mempertahankan wilayahnya jika terjadi eskalasi konflik.
Keputusan ini juga mencerminkan dinamika hubungan internasional era saat ini, di mana negara-negara kecil dan menengah kerap memanfaatkan latihan militer sebagai alat politik untuk meningkatkan kredibilitas dan posisi tawar mereka di tingkat global.
Potensi Dampak Regional dan Global
Latihan perang yang dilakukan Kuba menarik perhatian sejumlah kalangan internasional karena dapat memiliki dampak yang lebih luas terhadap stabilitas kawasan. Ketegangan antara blok kekuatan global yang saling bersaing, terutama Amerika Serikat dan negara-negara di Amerika Latin, dapat memperluas tekanan geopolitik di luar batas kawasan itu sendiri.
Penyebaran unit militer, peningkatan latihan kesiapsiagaan, hingga kecaman diplomatik dari negara lain membuka potensi perubahan dinamika keamanan yang bisa berdampak pada hubungan bilateral dan aliansi strategis. Negara di kawasan Karibia lain, serta organisasi internasional seperti Uni Afrika dan Liga Arab, turut mengamati situasi ini dengan cermat.
Kesimpulan
Kuba tetap teguh pada kebijakan kedaulatan nasionalnya dengan menggelar latihan perang dan meningkatkan kesiapan militer sebagai respons terhadap potensi ancaman eksternal, terutama dari Amerika Serikat. Langkah ini merupakan sinyal kuat bahwa negara pulau itu tidak ingin mengalami nasib politik dan geopolitik yang sama seperti yang terjadi di Venezuela. Ketegangan geostrategis yang ada juga melibatkan berbagai negara dan organisasi internasional yang menyerukan penghormatan hukum internasional serta penyelesaian damai konflik, sehingga Kuba, walaupun negara kecil, menunjukkan strategi politiknya sendiri dalam menghadapi tekanan global.

