Waswas Invasi Trump, 3 Negara NATO Tambah Pasukan ke Greenland
Beritadunia.id — Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan sekutu NATO memuncak dalam beberapa minggu terakhir setelah Presiden AS, Donald Trump, secara terbuka menyatakan ambisinya bahwa Greenland harus berada di bawah kendali AS demi alasan keamanan nasional, memicu gelombang protes dan reaksi keras dari negara Eropa serta pemerintah Greenland sendiri. Greenland, meskipun merupakan wilayah otonom Kerajaan Denmark, kini menjadi pusat perhatian internasional seiring meningkatnya kehadiran militer yang diinisiasi oleh sejumlah negara anggota NATO.
Fenomena ini terjadi di tengah sorotan global tentang masa depan wilayah Arktik — sebuah kawasan yang semakin strategis karena posisi geografisnya, potensi sumber daya alam besar, serta perubahan iklim yang membuka jalur transportasi baru. Sensasi akan “invasi” yang dipicu oleh pernyataan Trump telah mendorong sejumlah negara Eropa untuk melakukan langkah tegas demi memastikan keamanan kawasan sekaligus menegaskan komitmen terhadap kedaulatan Denmark dan Greenland.
Ancaman Trump dan Reaksi Sekutu NATO
Pekan lalu, Trump kembali menegaskan bahwa AS perlu memiliki kendali atas Greenland untuk melindungi kepentingan keamanan nasionalnya, mengutip kekhawatiran tentang pengaruh Rusia dan China di wilayah Arktik. Meskipun Denmark memiliki hak kedaulatan penuh atas Greenland, Trump menuduh bahwa negara sekutu Barat tersebut tidak sanggup melindungi wilayah itu secara memadai.
“Kami membutuhkan Greenland untuk keamanan nasional. Jika kami tidak masuk, Rusia akan masuk, dan China juga,” kata Trump, menegaskan bahwa Washington memiliki alasan kuat untuk mempertimbangkan lebih jauh peran militer di kawasan itu. Pernyataan semacam ini memicu reaksi diplomatik dari Eropa yang menilai pernyataan Trump melewati batas dalam hubungan antar sekutu.
Sebagai respons terhadap kekhawatiran tersebut, Jerman, Prancis, dan Swedia pada Rabu mengumumkan akan mengirim pasukan tambahan ke Greenland, bersama dengan beberapa negara NATO lainnya yang menyatakan dukungan dalam memastikan stabilitas keamanan di Arktik. Pasukan ini niatnya bukan untuk melawan AS secara militer, tetapi sebagai simbol solidaritas NATO terhadap Denmark dan Greenland, serta memastikan bahwa setiap keputusan mengenai masa depan wilayah tidak diambil secara sepihak oleh satu negara.
Operasi Bersama NATO di Greenland
Kontribusi militer yang datang dari ketiga negara NATO tersebut merupakan bagian dari apa yang disebut sebagai Operation Arctic Endurance — latihan dan kegiatan militer bersama yang juga disepakati dengan otoritas Denmark. Jerman telah mengirim unit pengintaian kecil sebanyak 13 tentara sebagai bagian dari misi untuk menjelajahi kemungkinan kontribusi militer yang lebih luas di wilayah tersebut. Selain itu, Swedia dan Prancis telah mengirimkan pasukan mereka, mulai dari unit pengintai hingga pasukan pegunungan.
Nilai dari kehadiran militer ini tidak dimaksudkan sebagai bentuk konfrontasi terhadap AS, tetapi lebih sebagai pencegahan geopolitik, memastikan bahwa keputusan yang berkaitan dengan Greenland tetap menghormati kedaulatan Denmark serta prinsip hubungan internasional yang stabil dan adil. Denmark sendiri juga memperkuat kehadiran militernya dengan mengirim peralatan serta pasukan awal guna mempersiapkan kemungkinan skenario ke depan.
Pejabat pemerintah Denmark menegaskan bahwa misi tersebut akan berfokus pada latihan gabungan, kesiapan logistik, serta kerja sama untuk mendukung keamanan regional. Rencana tersebut mencakup penguatan operasi udara, kapal patroli, serta personel yang bekerja sama dengan otoritas lokal Greenland dan pihak NATO lainnya.
Greenland & Denmark: Tegaskan Kedaulatan dan Otonomi
Respons atas komentar Trump tidak hanya datang dari Eropa. Pemerintah Greenland dan Denmark secara tegas menolak gagasan pencaplokan wilayah tersebut oleh AS. Mereka menekankan bahwa Greenland memiliki hak untuk menentukan masa depannya sendiri, termasuk dalam hal aliansi strategis dan pertahanan.
Perdana Menteri Greenland, Jens-Frederik Nielsen, serta Menteri Luar Negeri Denmark Lars Løkke Rasmussen menegaskan dalam beberapa kesempatan bahwa ide untuk “mencaplok” Greenland adalah tidak dapat diterima, terutama ketika wilayah itu memiliki pemerintahan otonom dan hubungan khusus dengan negara Denmark. Mereka juga menyatakan bahwa jika terjadi agresi terhadap Greenland, hal itu sama saja dengan serangan terhadap Denmark sebagai bagian dari NATO, yang berarti mekanisme pertahanan kolektif akan diaktifkan.
Beberapa pemimpin Eropa kembali menekankan bahwa menjaga perdamaian di Arktik membutuhkan diplomasi multilateral yang kuat, bukan retorika yang bisa memecah belah aliansi. Mereka menunjukkan dukungan kepada Denmark dan menegaskan bahwa masa depan wilayah tersebut harus ditentukan melalui dialog yang bermartabat dan menghormati hukum internasional.
Geopolitik Arktik: Strategi, Sumber Daya, dan Keamanan
Greenland memiliki posisi geostrategis yang sangat penting di Arktik: dekat dengan rute laut Utara, kaya akan sumber daya alam termasuk mineral penting, serta memiliki potensi besar untuk fasilitas pertahanan seperti radar dan pangkalan militer. Oleh karena itu, kendali atas Greenland menjadi sangat penting dari perspektif keamanan global, bukan hanya bagi AS tetapi juga bagi negara Eropa dan sekutu NATO lainnya.
Trump sering menyebut bahwa Rusia dan China juga tertarik pada wilayah ini, sehingga AS harus bertindak cepat untuk mempertahankan keunggulan strategis. Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran di kalangan negara NATO karena dapat dianggap sebagai langkah unilateral yang mengabaikan kerja sama kolektif yang biasanya menjadi fondasi aliansi.
Dalam beberapa bulan terakhir, meningkatnya aktivitas militer dan latihan bersama di Greenland juga mencerminkan upaya aliansi untuk memperkuat pertahanan di kawasan Arktik. Latihan ini tidak hanya mencakup patroli darat, tetapi juga berbagai elemen seperti pengintaian udara dan operasi laut untuk menyiapkan respons terhadap ancaman nyata di kawasan yang semakin diperebutkan.
Respon Diplomatik & Masa Depan Hubungan Transatlantik
Ketegangan antara AS dan sekutu Eropa dalam isu Greenland menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan hubungan transatlantik dalam aliansi NATO. Selama ini, NATO dikenal sebagai aliansi pertahanan kolektif yang dibangun berdasarkan prinsip saling menghormati kedaulatan negara anggotanya. Namun dinamika baru ini memperlihatkan bagaimana perbedaan pendekatan strategis dapat memperumit kerja sama di tingkat tertinggi.
Beberapa analis internasional berpendapat bahwa krisis ini bisa menjadi ujian besar terhadap solidaritas negara-negara anggota NATO, yang selama ini terbiasa bekerja bersama menghadapi ancaman eksternal seperti agresi Rusia. Saat ketegangan muncul antara sekutu sendiri, hal tersebut dapat berdampak pada bagaimana aliansi tersebut akan bertindak di masa depan dalam isu-isu krusial lainnya.
Kesimpulan: Zona Abu-abu Diplomasi & Keamanan Arktik
Situasi di Greenland bukan hanya soal klaim teritorial atau pergeseran pengaruh geopolitik, tetapi juga menggambarkan tantangan bestari dalam hubungan internasional abad ke-21. Ketegangan yang dipicu oleh pernyataan Trump telah mendorong tindakan nyata dari negara-negara NATO untuk memperkuat kehadiran mereka di Arctic, sebagai simbol solidaritas terhadap Denmark dan sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan dinamika keamanan yang lebih rumit.
Meski perdebatan masih jauh dari penyelesaian, satu hal jelas — kawasan Arktik kini menjadi pusat strategi global, dengan Greenland sebagai titik fokus yang penuh arti bagi kepentingan keamanan, ekonomi, dan politik internasional.

