Berita ViralBlog

Serangan Udara Israel di Gaza Tewaskan 32 Orang di Tenda Pengungsian Khan Younis

Beritadunia.id — Serangan udara Israel kembali menghantam Jalur Gaza pada Sabtu (31/1/2026). Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 32 warga Palestina. Sebagian besar korban merupakan pengungsi yang berlindung di tenda-tenda darurat di Khan Younis, wilayah selatan Gaza.

Ledakan terjadi pada dini hari saat banyak keluarga tengah beristirahat. Serangan itu menghancurkan sejumlah tenda dan bangunan di sekitarnya. Tim penyelamat menemukan korban dalam kondisi tertimbun puing dan material logam.

Tenda Pengungsian Jadi Lokasi Paling Terdampak

Khan Younis saat ini menjadi salah satu pusat pengungsian terbesar di Gaza. Ribuan warga mengungsi ke wilayah tersebut setelah kehilangan rumah akibat konflik berkepanjangan. Banyak dari mereka tinggal di tenda darurat dengan perlindungan yang sangat terbatas.

Serangan udara menghantam area yang padat penduduk. Ledakan langsung memicu kebakaran dan kepanikan massal. Warga berusaha menyelamatkan anggota keluarga mereka di tengah asap dan reruntuhan.

Petugas medis setempat melaporkan bahwa korban tewas terdiri dari perempuan dan anak-anak. Beberapa keluarga kehilangan lebih dari satu anggota dalam satu serangan. Kondisi ini memperparah trauma warga sipil yang telah lama hidup dalam ketidakpastian.

Kerusakan Luas dan Situasi Darurat

Selain tenda pengungsian, serangan juga merusak rumah tinggal dan fasilitas umum. Jalan-jalan utama di Khan Younis tertutup puing. Ambulans kesulitan mencapai lokasi terdampak karena akses terbatas.

Rumah sakit di wilayah selatan Gaza langsung kewalahan. Tenaga medis menangani korban dengan peralatan yang minim. Beberapa fasilitas kesehatan bahkan kehabisan pasokan obat-obatan penting.

Situasi ini memperlihatkan betapa rapuhnya kondisi infrastruktur Gaza. Serangan udara terus mempersempit ruang aman bagi warga sipil.

Israel Klaim Menargetkan Infrastruktur Militan

Militer Israel mengonfirmasi adanya operasi udara di Gaza. Dalam pernyataan resmi, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyebut serangan tersebut menyasar infrastruktur militan Hamas.

IDF mengklaim kelompok bersenjata menggunakan wilayah sipil sebagai lokasi operasi. Israel menyatakan serangan dilakukan sebagai respons atas dugaan pelanggaran gencatan senjata.

Namun, pernyataan tersebut tidak meredakan kecaman internasional. Banyak pihak menilai serangan di area pengungsian melanggar prinsip perlindungan warga sipil.

Gencatan Senjata Kembali Dipertanyakan

Serangan ini terjadi di tengah gencatan senjata yang rapuh. Kesepakatan tersebut dimediasi oleh Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar. Perjanjian bertujuan menghentikan kekerasan dan membuka akses bantuan kemanusiaan.

Sejak diberlakukan, kesepakatan itu kerap menghadapi pelanggaran. Kedua pihak saling menyalahkan atas kegagalan menjaga komitmen.

Pengamat menilai serangan di Khan Younis memperlihatkan lemahnya mekanisme pengawasan gencatan senjata. Tanpa jaminan keamanan, warga sipil terus menjadi korban.

Reaksi Keras dari Dunia Internasional

Mesir mengecam keras serangan udara tersebut. Pemerintah Mesir menilai tindakan itu memperburuk situasi kemanusiaan di Gaza. Kairo mendesak semua pihak menahan diri.

Qatar juga menyampaikan kecaman serupa. Negara tersebut menyerukan penghormatan terhadap hukum humaniter internasional. Qatar menegaskan pentingnya perlindungan bagi pengungsi dan warga sipil.

Beberapa organisasi internasional menyerukan investigasi independen. Mereka menilai serangan terhadap tenda pengungsian sebagai pelanggaran serius.

Ancaman terhadap Bantuan Kemanusiaan

Serangan terjadi menjelang rencana pembukaan jalur bantuan melalui perbatasan Rafah. Pembukaan jalur ini diharapkan mempercepat distribusi makanan dan obat-obatan.

Namun, situasi keamanan yang memburuk menghambat upaya tersebut. Lembaga kemanusiaan kesulitan menjamin keselamatan relawan dan tenaga medis.

PBB memperingatkan bahwa Gaza berada di ambang krisis kemanusiaan yang lebih besar. Kekurangan pangan, air bersih, dan layanan kesehatan semakin parah.

Warga Sipil Terjebak Tanpa Perlindungan

Bagi warga Gaza, tenda pengungsian menjadi satu-satunya tempat berlindung. Namun, serangan ini menunjukkan bahwa bahkan lokasi tersebut tidak aman.

Banyak pengungsi tidak memiliki pilihan lain. Mereka tidak bisa meninggalkan Gaza karena blokade. Di sisi lain, wilayah yang tersisa terus menyempit akibat konflik.

Kondisi ini menciptakan tekanan psikologis yang berat. Anak-anak tumbuh dalam ketakutan dan kehilangan rasa aman.

Konflik yang Tak Kunjung Usai

Konflik Israel dan Hamas telah berlangsung selama puluhan tahun. Eskalasi terbaru sejak 2023 membawa dampak besar bagi warga sipil Gaza.

Upaya diplomatik terus berjalan, tetapi hasilnya belum signifikan. Setiap pelanggaran gencatan senjata menambah daftar korban jiwa.

Serangan di Khan Younis menjadi pengingat keras. Tanpa solusi politik yang adil dan berkelanjutan, kekerasan akan terus berulang.

Penutup

Serangan udara Israel di Khan Younis menewaskan 32 warga Palestina yang sebagian besar merupakan pengungsi. Tragedi ini memperdalam luka kemanusiaan di Gaza.

Dunia internasional menghadapi tekanan untuk bertindak lebih tegas. Perlindungan warga sipil harus menjadi prioritas utama.

Selama konflik terus berlangsung, Gaza akan tetap berada dalam bayang-bayang krisis dan penderitaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *