Berita ViralBlogKesehatan

Yue Li Tinggalkan Karier Manajer dan Pilih Hidup di Pulau Tak Berpenghuni

beritadunia.id – Seorang perempuan asal China, Yue Li, mengambil keputusan ekstrem. Ia meninggalkan karier mapan dan memilih tinggal di pulau tak berpenghuni. Keputusan itu muncul setelah ia mengalami burnout berat.

Selama hampir dua dekade, Yue Li bekerja di Beijing. Ia menjabat sebagai manajer senior di perusahaan properti besar. Setiap hari ia menghadiri rapat panjang dan mengejar target ketat. Ia juga sering melakukan perjalanan dinas.

Rutinitas itu menguras tenaganya. Ia jarang memiliki waktu istirahat. Tekanan kerja terus meningkat dari tahun ke tahun. Akhirnya, ia merasa kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.

Tekanan Kerja Picu Burnout

Yue Li mengaku sering bekerja hingga larut malam. Ia harus memastikan proyek berjalan sesuai jadwal. Ia juga bertanggung jawab atas kinerja tim. Semua beban itu membuatnya kelelahan secara fisik dan mental.

Ia mulai mempertanyakan arti kesuksesan. Gaji tinggi tidak lagi memberinya kebahagiaan. Jabatan bergengsi juga tidak menghadirkan ketenangan.

Ia lalu memutuskan berhenti. Keputusan itu tidak mudah. Namun, ia ingin memulihkan kesehatannya dan mencari makna baru.

Menemukan Iklan Kerja di Pulau Terpencil

Perubahan besar datang saat ia melihat lowongan kerja unik. Sebuah perusahaan perikanan membuka posisi di pulau terpencil. Lokasinya berada di Laut China Timur.

Pulau itu dikenal sebagai Dongzhai Island. Tempat tersebut hampir tidak memiliki penduduk tetap. Lingkungannya sunyi dan jauh dari hiruk-pikuk kota.

Perusahaan menawarkan posisi inspektur kualitas. Tugasnya sederhana. Ia harus memantau kondisi air laut dan peralatan pakan ikan. Ia juga mencatat perkembangan hasil budidaya.

Gajinya sekitar 3.000 yuan per bulan. Jumlah itu jauh lebih kecil dibanding penghasilannya di Beijing. Namun, Yue Li tidak mempersoalkan nominal tersebut.

Ia justru melihat kesempatan untuk hidup lebih tenang.

Hidup Sederhana di Tengah Alam

Setelah menerima pekerjaan itu, Yue Li pindah ke pulau tersebut. Ia tinggal di bangunan sederhana dekat area budidaya ikan. Fasilitasnya terbatas. Akses listrik dan logistik juga tidak selalu lancar.

Kapal pengangkut datang secara berkala. Kapal itu membawa bahan makanan dan kebutuhan pokok. Karena itu, ia harus mengatur persediaan dengan cermat.

Cuaca di pulau sering berubah drastis. Angin kencang dan hujan deras kerap datang tanpa peringatan. Atap tempat tinggalnya pernah bocor saat badai menerjang.

Ia juga menghadapi gangguan hewan liar. Tikus beberapa kali merusak barang pribadinya. Namun, ia menganggap semua itu bagian dari proses adaptasi.

Menemukan Kedamaian yang Hilang

Meski hidup dalam keterbatasan, Yue Li merasakan ketenangan. Ia bangun pagi dengan suara ombak. Ia bekerja tanpa tekanan target besar. Setelah tugas selesai, ia membaca buku atau berjalan di tepi pantai.

Ia menikmati matahari terbenam setiap sore. Pemandangan laut memberinya rasa damai. Ia merasa lebih hadir dalam setiap momen.

Ia tidak lagi terjebak dalam rapat maraton. Ia tidak lagi menerima panggilan kerja tengah malam. Hidupnya kini memiliki ritme yang lebih alami.

Menurutnya, keputusan ini menyelamatkan kesehatan mentalnya.

Respons Publik dan Fenomena Sosial

Kisah Yue Li cepat menyebar di media sosial China. Banyak warganet memuji keberaniannya. Mereka melihatnya sebagai simbol perlawanan terhadap budaya kerja ekstrem.

Beberapa orang menyebut langkahnya sebagai bentuk “detoks karier”. Sebagian lainnya menganggapnya inspirasi untuk hidup minimalis.

Fenomena burnout memang meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Banyak profesional muda merasa lelah dengan tekanan industri modern. Mereka mulai mencari alternatif gaya hidup yang lebih seimbang.

Langkah Yue Li memperkuat diskusi tersebut. Ia membuktikan bahwa kesuksesan tidak selalu berarti jabatan tinggi.

Makna Baru tentang Kesuksesan

Yue Li tidak menganggap dirinya melarikan diri. Ia justru merasa mengambil kendali. Ia memilih hidup sesuai prioritas pribadinya.

Ia sadar penghasilannya kini lebih kecil. Namun, ia memperoleh waktu dan ketenangan. Ia juga merasa lebih sehat secara mental.

Kisah ini menunjukkan perubahan pola pikir generasi pekerja. Banyak orang kini menilai kualitas hidup lebih penting daripada status sosial.

Pilihan Yue Li memang tidak cocok untuk semua orang. Namun, keputusannya membuka ruang refleksi. Ia mengajak banyak orang untuk menilai kembali definisi bahagia.

Kesimpulan

Yue Li pilih hidup di pulau tak berpenghuni karena burnout yang ia alami selama bertahun-tahun. Ia meninggalkan karier mapan demi ketenangan dan keseimbangan hidup.

Kini, ia menjalani hari-hari sederhana di pulau terpencil. Ia bekerja tanpa tekanan besar. Ia menikmati alam tanpa gangguan kota.

Keputusan itu mengubah hidupnya secara drastis. Namun, bagi Yue Li, perubahan tersebut menghadirkan kebebasan yang selama ini ia cari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *