35.000 Warga Gaza Alami Gangguan Pendengaran Akibat Bombardir
Beritadunia.id – Jalur Gaza — Konflik di Jalur Gaza terus menimbulkan dampak kemanusiaan serius. Korban jiwa terus bertambah. Kini, puluhan ribu warga mengalami gangguan pendengaran permanen atau sebagian.
Laporan organisasi lokal menunjukkan 35.000 anak-anak dan orang dewasa di Gaza menderita gangguan pendengaran akibat ledakan selama konflik. Dampak ini menambah daftar penderitaan warga.
Ledakan, Trauma Suara, dan Kerusakan Telinga
Spesialis kesehatan menjelaskan, gangguan pendengaran muncul bukan hanya karena luka fisik. Paparan gelombang suara dari ledakan dapat merusak gendang telinga dan saraf pendengaran. Banyak kasus kini tidak dapat disembuhkan.
Dr. Ramadan Hussein, audiolog di Gaza, mengatakan, “Banyak korban akan menghadapi tantangan pendengaran seumur hidup. Luka mungkin tidak terlihat, tapi kerusakan telinga sangat nyata.”
Kisah Nyata: Anak Gaza
Dana, gadis 12 tahun, mengalami trauma berat. Ledakan menghancurkan jendela rumahnya. Ia selamat, tetapi kini pendengarannya rusak parah. Ribuan anak di Gaza menghadapi kondisi serupa, menghadapi masa depan yang penuh tantangan.
Akses Kesehatan Terbatas
Krisis diperparah oleh keterbatasan alat medis. Warga kekurangan alat bantu dengar, implan koklea, dan peralatan pendukung lain. Blokade dan rusaknya fasilitas medis membuat perawatan sulit.
Organisasi kemanusiaan melaporkan, layanan rehabilitasi terbatas. Tenaga ahli juga sangat kurang, sehingga pemulihan banyak korban terganggu, terutama anak-anak.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Gangguan pendengaran memengaruhi pendidikan dan pekerjaan. Anak-anak kesulitan belajar di sekolah. Orang dewasa kehilangan kemampuan bekerja. Banyak yang mengalami isolasi sosial karena kesulitan berkomunikasi.
Konflik yang Lebih Luas
Konflik dua tahun terakhir menimbulkan korban jiwa tinggi. Puluhan ribu warga tewas dan jutaan lainnya kehilangan kebutuhan dasar. Kekerasan terus berlangsung, menambah penderitaan warga Gaza.
Seruan untuk Bantuan Internasional
Para ahli meminta intervensi internasional. Mereka menekankan penghentian kekerasan dan akses penuh bagi bantuan medis. Rehabilitasi korban harus menjadi prioritas.
Seorang aktivis kesehatan berkata, “Ini bukan statistik. Anak-anak dan orang dewasa kehilangan kemampuan mendengar suara orang yang mereka cintai. Kita harus bertindak cepat.”
