Berita ViralBlogPolitikTeknologi

Trump Jengkel Exxon Tak Berminat Investasi di Venezuela, Larang Beroperasi di Caracas

Beritadunia.idWashington, 13 Januari 2026 — Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump, kembali menjadi sorotan dunia setelah mengeluarkan komentar tajam terhadap salah satu raksasa energi terbesar di dunia, ExxonMobil. Ketidaksenangan Trump terhadap sikap Exxon yang enggan langsung berinvestasi di sektor minyak Venezuela memicu perdebatan luas di lingkungan pemerintahan, industri energi, hingga pasar global. Langkah potensial Trump untuk membatasi aktivitas Exxon di Venezuela mencerminkan ketegangan yang lebih dalam antara kebijakan pemerintahan dan realitas industri energi internasional.


Trump dan Pertemuan Besar dengan Raksasa Energi AS

Dalam pertemuan yang digelar di Gedung Putih beberapa waktu lalu dengan para petinggi perusahaan minyak besar Amerika Serikat, Trump secara terbuka menyerukan agar perusahaan-perusahaan tersebut berkomitmen untuk menanamkan modal besar di Venezuela—negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia menurut berbagai analis energi. Trump berharap raksasa minyak seperti ExxonMobil, Chevron, dan ConocoPhillips bersedia mencurahkan setidaknya US$100 miliar untuk merevitalisasi industri energi Venezuela yang telah lama tertinggal akibat sanksi, kekacauan politik, dan kurangnya investasi asing.

Namun, harapan kuat itu bertepuk sebelah tangan. Saat diminta pendapat oleh Trump, CEO ExxonMobil Darren Woods secara terbuka menyatakan bahwa Venezuela saat ini masih “tidak layak investasi” oleh Exxon tanpa adanya reformasi besar dan jaminan hukum yang kokoh. Woods menekankan bahwa investasi skala besar seperti yang dibayangkan Trump memerlukan perubahan mendasar dalam struktur komersial, kerangka hukum, perlindungan investor, dan undang-undang hidrokarbon Venezuela, yang selama ini dianggap melemahkan kepastian bisnis.


Komentar Trump yang Menggemparkan Dunia Energi

Ketidaksetujuan Exxon terhadap agenda investasi Trump tak berlangsung tanpa konsekuensi. Dalam pernyataannya kepada wartawan saat kembali ke Washington, Trump menyatakan bahwa ia sangat tidak menyukai respons Exxon atas undang-undang investasi tersebut. “Saya tidak menyukai respon Exxon. Mereka terlalu berhati-hati,” ujar Trump, sembari mengindikasikan keputusannya untuk mungkin mengeluarkan Exxon dari peluang investasi di Venezuela.

Trump bahkan mengatakan bahwa administrasinya akan menentukan perusahaan mana saja yang layak diberikan kesempatan untuk beroperasi di Venezuela, sehingga keputusan ini tidak semata bergantung pada perusahaan minyak Venezuela itu sendiri tetapi lebih pada otoritas pengaturan dari pemerintah AS. Hal ini memperlihatkan pendekatan yang jauh lebih proteksionis dan dominan dalam usaha mengakselerasi keterlibatan industri energi AS di wilayah tersebut.

Sejumlah analis pasar energi mencatat bahwa komentar tajam Trump tersebut bukan hanya berdampak pada ExxonMobil, tetapi juga menciptakan tekanan pada saham perusahaan tersebut di bursa. Harga saham Exxon mengalami koreksi dalam perdagangan pra-pasar setelah pernyataan Trump, sementara saham pesaingnya seperti Chevron dan ConocoPhillips justru menunjukkan tren naik.


Alasan Exxon Tidak Tergoda Kembali ke Venezuela

Meski menjadi salah satu nama terbesar dalam industri minyak global, ExxonMobil kini mengambil sikap yang jauh lebih berhati-hati terkait peluang investasi di Venezuela. CEO Exxon, Woods, menegaskan bahwa kondisi saat ini masih jauh dari ideal bagi investasi berskala miliaran dolar.

Beberapa faktor yang dipertimbangkan perusahaan mencakup:

  • Ketidakpastian kerangka hukum dan perlindungan investasi di Venezuela.
  • Risiko politik yang tinggi pasca pengambilalihan rezim Nicolas Maduro oleh militer AS dalam operasi yang kontroversial.
  • Pengalaman pahit sebelumnya ketika aset Exxon dan perusahaan minyak lain diekspropriasi di masa lalu oleh pemerintah Venezuela.

Woods menyatakan bahwa Exxon memerlukan jaminan hukum yang tahan lama dan kejelasan investasi sebelum bersedia kembali ke Venezuela. Pernyataan ini mencerminkan keputusan perusahaan yang bersandar pada logika bisnis jangka panjang, bukan sekadar tekanan politik.


Respon Industri Energi dan Kendala Besar di Venezuela

Tidak semua perusahaan raksasa energi menanggapi ajakan Trump dengan sikap yang sama. Chevron, misalnya, yang sudah memiliki operasi di Venezuela sebelumnya dan bagian dari sektor energi negara tersebut, menunjukkan kesiapan untuk meningkatkan produksi hingga sekitar 50% dalam jangka waktu 18–24 bulan, berdasarkan pengalaman dan infrastruktur yang sudah ada.

Sementara itu, ConocoPhillips, yang merupakan salah satu perusahaan minyak terbesar di AS dan juga memiliki sejarah panjang di Venezuela, menekankan perlunya restrukturisasi total utang dan reformasi mendalam dalam sistem energi negara itu, termasuk dengan perusahaan minyak negara PDVSA.

Meski beberapa pihak menunjukkan kesiapan untuk kembali ke pasar Venezuela, sebagian besar eksekutif menilai risiko masih terlalu tinggi mengingat kondisi politik yang belum stabil, peraturan yang tidak jelas, dan masalah utang lama kepada perusahaan asing. Hal ini menambah kompleksitas dalam keputusan investasi di sektor ini.


Dampak pada Kebijakan Energi AS dan Pasar Global

Ketegangan antara pemerintah AS dan ExxonMobil ini bukan hanya soal hubungan politik dan bisnis, tetapi juga mencerminkan tantangan yang lebih luas dalam strategi energi global. Venezuela, dengan cadangan minyak terbesar di dunia, memiliki potensi besar untuk mengguncang pasar minyak global jika produksi dapat dipulihkan.

Namun, realitas saat ini menunjukkan bahwa cadangan besar itu tetap sulit dijangkau tanpa kerja sama yang solid antara pemerintah Venezuela, perusahaan minyak internasional, dan jaminan investor yang kuat. Trump sendiri telah mengambil langkah untuk mengeluarkan perintah eksekutif yang mencegah kreditur atau pengadilan menyita pendapatan minyak Venezuela yang saat ini disimpan di rekening Departemen Keuangan AS. Langkah ini dimaksudkan untuk memberikan stabilitas dalam potensi aliran investasi dan pendapatan minyak.

Sementara itu, pasar keuangan telah bereaksi terhadap berita ini, dengan beberapa perusahaan minyak melihat sahamnya bergerak lebih tinggi, mencerminkan optimisme terhadap peluang di masa depan, sedangkan Exxon sempat mengalami tekanan akibat ketidakpastian arah kebijakan.


Kesimpulan: Kebijakan Trump Menyulut Perdebatan di Dunia Energi

Langkah Presiden Trump yang menyinggung ExxonMobil serta sinyal kuat kemungkinan larangan operasi perusahaan tersebut di Venezuela menunjukkan dinamika baru dalam hubungan antara pemerintahan AS dan industri energi global. Trump berupaya memobilisasi investasi besar untuk merestorasi industri minyak Venezuela, namun realitas industrinya jauh lebih kompleks karena kebutuhan reformasi struktural dan jaminan hukum yang belum terpenuhi. Sementara Chevron dan beberapa pemain lain menunjukkan minat, ketidaktertarikan Exxon mencerminkan keraguan yang lebih luas di antara para investor besar.

Kisah ini belum berakhir. Menyusul pernyataan Trump, pasar energi global, pembuat kebijakan, dan para pemangku kepentingan industri akan terus memantau bagaimana hubungan antara Washington dan perusahaan minyak besar berubah di tengah upaya geopolitik yang ambisius ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *