Klarifikasi BBKSDA Sumut soal Video Viral di Simalungun: Hewan Terlindas Bukan Anak Harimau
Beritadunia.id − Video yang menampilkan hewan terlindas di Kabupaten Simalungun viral di media sosial. Banyak akun menyebut hewan itu anak harimau Sumatera. Unggahan tersebut memicu kepanikan dan keprihatinan publik.
Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara segera menanggapi isu tersebut. Petugas turun langsung ke lokasi untuk memeriksa kondisi di lapangan. Hasil pemeriksaan memastikan klaim warganet tidak benar.
BBKSDA menegaskan bahwa hewan yang terlindas bukan anak harimau. Petugas mengidentifikasi satwa itu sebagai macan akar. Spesies tersebut memang hidup di wilayah Sumatera.
Video Menyebar Cepat di Media Sosial
Warganet membagikan video itu melalui berbagai platform. Narasi menyebut tiga harimau menyeberang jalan. Satu anak harimau tertabrak kendaraan. Dua lainnya disebut masuk ke ladang warga.
Dalam video, terlihat warga berkumpul di tepi jalan. Beberapa orang menunjuk ke arah tubuh hewan yang terlindas. Narasi emosional memperkuat kesan bahwa satwa dilindungi mati tertabrak.
Banyak pengguna media sosial menulis komentar bernada sedih. Sebagian menyoroti ancaman terhadap populasi harimau Sumatera. Ada pula yang menyalahkan pengendara.
Namun, tidak satu pun unggahan menyertakan bukti valid. Tidak ada pernyataan resmi dari pihak berwenang. Informasi menyebar tanpa verifikasi.
BBKSDA Turun ke Lokasi
Kepala BBKSDA Sumut, Novita Kusuma Wardani, memerintahkan tim untuk menelusuri lokasi. Petugas mendatangi titik yang disebut dalam video.
Tim memeriksa sisa tubuh hewan yang tertinggal. Mereka juga berdiskusi dengan warga sekitar. Dari hasil identifikasi, petugas memastikan satwa itu bukan harimau Sumatera.
“Hewan tersebut macan akar, bukan anak harimau,” tegas Novita.
Macan akar memiliki ukuran tubuh kecil. Pola tubuhnya berbeda dari harimau. Bentuk kepala dan ekornya juga tidak sama.
Petugas menduga kendaraan melindas hewan itu saat malam hari. Jalan tersebut memang ramai dilalui kendaraan berat.
Mengenal Macan Akar
Macan akar atau Prionailurus bengalensis merupakan kucing liar kecil. Spesies ini hidup di hutan, semak, dan perkebunan.
Macan akar sering muncul di pinggiran permukiman. Perubahan habitat mendorong satwa itu mendekati area manusia.
Berat tubuh macan akar jauh lebih ringan dari harimau. Panjang badannya hanya sekitar satu meter. Pola totolnya juga berbeda.
Masyarakat sering salah mengira macan akar sebagai anak harimau. Kesalahan itu kerap muncul saat satwa terlihat sekilas.
Kesalahan Identifikasi Kerap Terjadi
Banyak orang menilai satwa liar hanya dari video singkat. Kualitas rekaman yang rendah memicu kesimpulan keliru.
Narasi yang beredar sering memperkeruh keadaan. Unggahan emosional membuat orang mudah percaya.
Beberapa kasus sebelumnya menunjukkan pola serupa. Warganet mengira kucing hutan sebagai harimau. Setelah diperiksa, klaim itu tidak terbukti.
BBKSDA menilai literasi satwa liar masih rendah. Masyarakat belum memahami perbedaan antarspesies.
Pentingnya Verifikasi Informasi
BBKSDA mengimbau masyarakat tidak langsung percaya konten viral. Publik perlu menunggu pernyataan resmi.
Misinformasi dapat memicu kepanikan. Isu palsu juga merusak kepercayaan publik.
Dalam kasus ini, narasi keliru menyebut kematian anak harimau. Padahal fakta di lapangan berbeda.
Petugas menekankan pentingnya laporan warga. Jika menemukan satwa liar, masyarakat sebaiknya menghubungi BKSDA.
Dampak terhadap Persepsi Publik
Isu harimau Sumatera sangat sensitif. Populasi satwa ini memang terancam punah.
Narasi keliru bisa memicu ketakutan berlebihan. Warga dapat bersikap agresif terhadap satwa liar.
Kesalahan informasi juga mengalihkan fokus konservasi. Padahal masalah utama tetap hilangnya habitat.
BBKSDA menilai edukasi publik harus diperkuat. Masyarakat perlu memahami cara mengenali satwa liar.
Upaya Konservasi di Sumatera Utara
BBKSDA terus melakukan patroli rutin. Petugas memantau wilayah rawan konflik.
Mereka juga menggelar sosialisasi ke desa-desa. Edukasi bertujuan mengurangi konflik manusia dan satwa.
Petugas mengajarkan cara melapor jika melihat satwa. Warga tidak boleh bertindak sendiri.
BBKSDA juga bekerja sama dengan aparat desa. Kolaborasi ini mempercepat respons di lapangan.
Kesimpulan
Video viral di Simalungun tidak menunjukkan kematian anak harimau. BBKSDA Sumut memastikan hewan itu macan akar.
Klarifikasi ini menegaskan pentingnya verifikasi. Masyarakat perlu bersikap kritis terhadap konten viral.
Isu satwa liar membutuhkan penanganan serius. Informasi yang akurat membantu upaya konservasi.
BBKSDA mengajak publik ikut menjaga kelestarian satwa. Edukasi dan kesadaran bersama menjadi kunci.
