Berita ViralBisnisMancanegara

Indonesia di Deklarasi BRICS New Delhi: Hadir, tapi di Pinggir

Beritadunia.id – Indonesia di Deklarasi BRICS New Delhi: Posisi dan Peran dalam Forum Global

Indonesia menjadi bagian dari pembahasan mengenai BRICS dalam pertemuan tingkat tinggi di New Delhi. Kehadiran Indonesia dalam forum tersebut menyoroti posisi negara sebagai anggota BRICS sekaligus tantangan untuk memastikan kepentingan nasional dapat disuarakan dalam kelompok ekonomi dan politik yang terus berkembang.

Artikel ini akan membahas konteks kehadiran Indonesia, karakter BRICS, serta arti penting keterlibatan Jakarta dalam forum multilateral. Perlu dibedakan antara kehadiran dalam suatu pertemuan dan sejauh mana suatu negara memiliki pengaruh terhadap keputusan bersama.

Indonesia di Deklarasi BRICS New Delhi: Hadir, tapi di Pinggir

Indonesia tercatat sebagai salah satu negara yang ikut dalam forum BRICS di New Delhi, India, pada 12-13 September 2026. Pertemuan tersebut menghasilkan Deklarasi New Delhi yang memuat sejumlah kesepakatan mengenai kerja sama ekonomi, perdagangan, energi, hingga respons terhadap persoalan geopolitik.

Namun, kehadiran Indonesia dalam forum tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana posisi Jakarta dapat memengaruhi arah pembahasan BRICS. Sebagai anggota yang relatif baru, Indonesia berada di tengah kelompok negara dengan kepentingan ekonomi dan politik yang beragam.

BRICS sendiri terus berkembang dari forum kerja sama ekonomi menjadi wadah yang membahas isu-isu global. Perluasan keanggotaan membuat kelompok ini memiliki cakupan yang lebih besar, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan dalam menyatukan kepentingan para anggotanya.

Indonesia Masuk dalam Keanggotaan BRICS

Indonesia menjadi anggota BRICS pada Januari 2025. Keanggotaan tersebut menempatkan Indonesia dalam kelompok yang sebelumnya dikenal melalui Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan.

Dalam perkembangannya, BRICS memperluas keanggotaan dengan memasukkan sejumlah negara lain, termasuk Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab. Dengan bertambahnya anggota, forum ini menjadi lebih beragam dari sisi kawasan, ekonomi, dan kepentingan strategis.

Pada pertemuan di New Delhi, BRICS terdiri atas 11 negara anggota. Kelompok tersebut mencakup negara-negara dengan karakter hubungan luar negeri yang berbeda, termasuk negara yang memiliki kedekatan dengan Amerika Serikat maupun negara yang kerap berseberangan dengan kebijakan Washington.

Reuters

+1

Bagi Indonesia, keterlibatan dalam BRICS menjadi bagian dari upaya memperluas kerja sama internasional. Keanggotaan ini dapat membuka ruang untuk membahas perdagangan, investasi, pembangunan, energi, serta isu-isu yang berkaitan dengan negara berkembang.

Deklarasi New Delhi Bahas Berbagai Isu Global

Pertemuan BRICS di New Delhi menghasilkan deklarasi bersama yang mencakup sejumlah isu penting. Salah satu perhatian utama adalah situasi geopolitik dan konflik yang berlangsung di berbagai kawasan.

Para pemimpin BRICS menyerukan pengekangan diri secara maksimal dalam menghadapi eskalasi konflik di Timur Tengah. Deklarasi tersebut juga menekankan pentingnya penyelesaian perselisihan melalui dialog, konsultasi, dan jalur diplomasi.

Pembahasan ini menjadi penting karena BRICS memiliki anggota dengan kepentingan yang berbeda dalam persoalan Timur Tengah. Iran dan Uni Emirat Arab, misalnya, memiliki posisi serta hubungan luar negeri yang tidak sepenuhnya sama, sehingga tercapainya pernyataan bersama menjadi bagian dari dinamika diplomasi kelompok tersebut.

Reuters

Selain persoalan geopolitik, deklarasi juga menyoroti perdagangan, sistem pembayaran, energi, ketahanan pangan, teknologi, dan reformasi lembaga internasional.

Kerja Sama Ekonomi Menjadi Agenda Utama

BRICS sejak awal dibentuk sebagai forum yang mendorong kerja sama di antara negara-negara berkembang dan kekuatan ekonomi non-Barat. Seiring perluasan keanggotaan, agenda ekonomi tetap menjadi salah satu fokus utama.

Dalam Deklarasi New Delhi, negara-negara anggota mendukung peningkatan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan. Mereka juga membahas penguatan sistem pembayaran lintas negara serta upaya meningkatkan keterhubungan sistem keuangan.

Langkah tersebut tidak secara otomatis berarti BRICS akan menggantikan sistem keuangan global yang sudah ada. Namun, pembahasan mengenai mata uang lokal dan sistem pembayaran menunjukkan adanya keinginan untuk mengurangi hambatan dalam transaksi antaranggota.

Bagi Indonesia, agenda tersebut dapat menjadi ruang untuk memperjuangkan kepentingan perdagangan dan memperluas hubungan ekonomi dengan negara-negara anggota BRICS. Meski demikian, penerapannya tetap membutuhkan kesepakatan teknis, kesiapan infrastruktur keuangan, dan penyesuaian kebijakan di masing-masing negara.

Deklarasi juga menyerukan peningkatan keterwakilan negara berkembang dalam lembaga-lembaga global. Isu tersebut sejalan dengan kepentingan banyak negara berkembang yang menginginkan tata kelola ekonomi internasional lebih mencerminkan perubahan peta kekuatan ekonomi dunia.

Reuters

+1

Posisi Indonesia di Tengah Perbedaan Kepentingan

Kehadiran Indonesia dalam BRICS tidak dapat dilepaskan dari karakter kelompok yang memiliki anggota dengan agenda berbeda-beda. Negara-negara di dalamnya tidak selalu memiliki pandangan yang sama mengenai isu perdagangan, keamanan, teknologi, maupun hubungan dengan negara-negara Barat.

Perbedaan tersebut menjadi salah satu tantangan dalam membangun kesepakatan bersama. BRICS memang dapat menyampaikan deklarasi kolektif, tetapi pelaksanaan setiap agenda tetap bergantung pada kesediaan dan kepentingan masing-masing anggota.

Reuters melaporkan bahwa pertemuan New Delhi memperlihatkan peran India sebagai tuan rumah sekaligus dinamika pengaruh China dalam agenda BRICS. China mendorong sejumlah inisiatif, termasuk kerja sama kecerdasan buatan dan integrasi ekonomi yang lebih erat. Di sisi lain, perbedaan pandangan di antara anggota tetap menjadi faktor yang memengaruhi arah kelompok.

Reuters

Dalam konteks tersebut, Indonesia perlu menempatkan keanggotaannya secara strategis. Kehadiran dalam forum multilateral tidak hanya berkaitan dengan partisipasi dalam pertemuan, tetapi juga kemampuan mengartikulasikan kepentingan nasional dan membangun kerja sama yang konkret.

Indonesia Memiliki Ruang untuk Menyuarakan Kepentingan Nasional

Sebagai negara dengan perekonomian besar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki kepentingan dalam isu perdagangan, investasi, energi, ketahanan pangan, dan pembangunan berkelanjutan.

Keanggotaan BRICS dapat menjadi salah satu jalur untuk memperluas hubungan ekonomi dengan negara-negara yang memiliki pasar besar dan sumber daya strategis. Forum ini juga dapat dimanfaatkan untuk membahas kerja sama pembangunan, pembiayaan infrastruktur, serta penguatan hubungan antarnegera berkembang.

Namun, peluang tersebut tidak serta-merta menghasilkan keuntungan tanpa kebijakan lanjutan. Indonesia tetap perlu memastikan bahwa kerja sama yang disepakati memberikan manfaat nyata bagi perekonomian nasional, dunia usaha, dan masyarakat.

Kehadiran Indonesia juga perlu dilihat sebagai bagian dari politik luar negeri yang berupaya menjaga hubungan dengan berbagai kelompok negara. Jakarta memiliki hubungan dengan negara-negara Barat, negara-negara Asia, serta negara berkembang lainnya. Karena itu, keanggotaan BRICS menjadi tambahan ruang diplomasi, bukan satu-satunya jalur hubungan internasional Indonesia.

Tantangan Implementasi Deklarasi

Deklarasi bersama merupakan hasil penting dalam pertemuan multilateral, tetapi pelaksanaannya membutuhkan langkah lanjutan. Kesepakatan mengenai perdagangan, sistem pembayaran, energi, dan teknologi harus diterjemahkan ke dalam program yang jelas.

Dalam bidang ekonomi, misalnya, penggunaan mata uang lokal membutuhkan kesiapan sistem perbankan, mekanisme transaksi, serta kesepakatan antarotoritas keuangan. Tanpa kesiapan tersebut, gagasan kerja sama dapat menghadapi kendala dalam pelaksanaan.

Hal serupa berlaku untuk kerja sama teknologi dan energi. Negara-negara anggota memiliki kapasitas industri, kebijakan, serta tingkat perkembangan yang berbeda. Karena itu, pelaksanaan agenda bersama perlu mempertimbangkan kondisi masing-masing negara.

Deklarasi BRICS juga menyinggung transisi energi yang adil, teratur, dan inklusif. Dokumen tersebut mengakui bahwa bahan bakar fosil masih memiliki peran penting, terutama bagi negara berkembang, sembari mendorong pengembangan energi berkelanjutan dan kerja sama mineral kritis.

The Indian Express

Bagi Indonesia, isu tersebut relevan karena transisi energi berkaitan dengan kebutuhan pembangunan, ketahanan energi, serta pengembangan sumber daya alam.

BRICS dan Arah Tata Kelola Dunia

BRICS kerap dipandang sebagai salah satu wadah yang mendorong terbentuknya tatanan dunia multipolar. Kelompok ini menyuarakan perlunya peningkatan peran negara berkembang dalam pengambilan keputusan global.

Deklarasi New Delhi kembali menekankan isu reformasi lembaga internasional, termasuk dorongan agar negara-negara berkembang memperoleh keterwakilan yang lebih besar.

Namun, arah BRICS tidak sepenuhnya seragam. Sebagian anggota menekankan kerja sama ekonomi, sementara lainnya melihat forum tersebut sebagai ruang untuk memperkuat posisi politik negara-negara berkembang dalam menghadapi dominasi kekuatan besar.

Perbedaan perspektif ini membuat BRICS menjadi forum yang kompleks. Pengaruhnya tidak hanya ditentukan oleh jumlah anggota, tetapi juga oleh kemampuan mereka menyepakati agenda dan menjalankan kerja sama secara konsisten.

Kehadiran Indonesia Perlu Diikuti Peran Aktif

Kehadiran Indonesia dalam Deklarasi BRICS New Delhi menandai keterlibatan negara dalam forum yang semakin luas cakupannya. Namun, status sebagai anggota tidak dengan sendirinya menunjukkan tingkat pengaruh yang sama dengan seluruh negara lain.

Indonesia masih memiliki ruang untuk memperkuat perannya melalui diplomasi, penyusunan agenda, dan kerja sama konkret. Posisi tersebut dapat dibangun dengan mengedepankan kepentingan nasional sekaligus menjaga komunikasi dengan seluruh anggota.

Dalam forum yang memiliki perbedaan kepentingan, kemampuan membangun titik temu menjadi hal penting. Indonesia dapat memanfaatkan keanggotaannya untuk mendorong agenda yang relevan dengan kebutuhan negara berkembang, seperti perdagangan yang terbuka, pembangunan berkelanjutan, ketahanan pangan, dan reformasi tata kelola global.

Pada akhirnya, Deklarasi New Delhi bukan hanya tentang siapa yang hadir dalam forum, tetapi juga bagaimana kesepakatan yang dihasilkan dapat diterjemahkan menjadi kerja sama nyata.

Bagi Indonesia, tantangan berikutnya adalah memastikan kehadiran tersebut tidak berhenti pada partisipasi simbolis. Peran aktif, diplomasi yang konsisten, serta hasil kerja sama yang terukur akan menjadi bagian penting dalam menentukan arti keanggotaan Indonesia di BRICS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *