Miftah Maulana Bahas Tragedi Kemanusiaan di Palestina: Dunia Alami Pergeseran Poros Kekuasaan
beritadunia.id – Jakarta — Situasi kemanusiaan di Palestina kembali menjadi sorotan. Krisis panjang yang melanda Gaza dan wilayah lain di Palestina membuka diskusi global tentang makna perdamaian, hak asasi manusia, serta peran negara-negara dunia dalam mencari solusi yang berkelanjutan.
Salah satu suara yang ikut mengangkat isu ini adalah Miftah Maulana Habiburohman, yang dikenal luas sebagai aktivis dan tokoh masyarakat. Ia memberikan pandangan mendalam tentang tragedi kemanusiaan yang terjadi di Palestina dan menilai bahwa dinamika kekuatan politik dunia saat ini mengalami perubahan signifikan.
Dalam pandangannya, konflik tersebut bukan sekadar isu geopolitik klasik. Ia melihatnya sebagai panggilan moral bagi komunitas internasional untuk bergerak lebih aktif, khususnya negara-negara dengan kapasitas diplomasi kuat, termasuk Indonesia.
Indonesia dan Peran Baru di Kancah Perdamaian Internasional
Miftah Maulana menyoroti langkah Indonesia yang belakangan memilih posisi lebih aktif dalam proses perdamaian Palestina. Menurutnya, keputusan itu mencerminkan ambisi diplomasi Indonesia untuk tidak lagi hanya menjadi pengamat, tetapi menjadi bagian dari solusi konkret.
Ia menegaskan bahwa Indonesia kini mampu duduk di meja perundingan dan memberikan kontribusi nyata dalam agenda stabilisasi wilayah konflik. Hal ini mencerminkan bahwa diplomasi negara ini terus berkembang dari pendekatan konservatif menuju keterlibatan strategis yang berdampak luas.
Ia menggarisbawahi bahwa keterlibatan tersebut tidak semata demi popularitas di forum internasional, tetapi sebagai bentuk komitmen untuk mendukung hak dasar manusia yang terus terancam dalam konflik berkepanjangan.
Krisis Palestina: Bukan Sekadar Konflik Biasa
Menurut Miftah Maulana, tragedi kemanusiaan di Palestina harus dipahami sebagai peristiwa yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar benturan politik antara dua pihak. Ia mengajak publik memahami bahwa konflik ini telah menimbulkan dampak sosial, ekonomi, dan psikologis yang mendalam bagi warga sipil.
Miftah menyoroti jumlah korban sipil, termasuk anak-anak dan perempuan yang menjadi paling rentan dalam konflik. Ia mengingatkan bahwa citra perang tradisional tidak cukup untuk menggambarkan kondisi sebenarnya di lapangan, karena selain kekerasan bersenjata, ancaman kemanusiaan lain seperti kekurangan pangan, air bersih, dan layanan medis juga menghantui kehidupan sehari-hari warga Palestina.
Ia meminta masyarakat global tidak hanya bersimpati tetapi juga bertindak melalui kerja sama internasional untuk menciptakan kondisi yang lebih aman dan berkelanjutan bagi warga sipil.
Dunia Mengalami Pergeseran Poros Kekuasaan
Miftah Maulana juga membahas perubahan aktor utama dalam politik global saat ini. Ia memandang bahwa poros kekuasaan dunia tidak lagi terpusat pada segelintir negara besar seperti di era pascaperang. Kini, keterlibatan negara-negara berkembang dalam forum diplomasi global menunjukkan adanya pergeseran signifikan.
Menurutnya, negara-negara yang sebelumnya jarang terdengar dalam upaya perdamaian kini mulai mengambil peran penting. Indonesia, sebagai contoh, dipandang mampu menjembatani suara dunia yang sebelumnya kurang terdengar dalam isu kemanusiaan.
Ia menyatakan bahwa pendekatan diplomasi internasional harus lebih fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan real masyarakat yang terjebak dalam konflik panjang. Ini berarti negara-negara dengan kapasitas diplomasi kuat harus berani mengambil langkah nyata, bukan hanya menyampaikan retorika di panggung global.
Aksi Nyata Mengatasi Krisis Kemanusiaan
Miftah menekankan bahwa dukungan terhadap Palestina tidak boleh berhenti pada dukungan moral semata. Ia mendorong negara-negara untuk mengimplementasikan strategi nyata dalam bentuk bantuan langsung, program pemulihan infrastruktur, serta dukungan hukum dan politik yang konsisten.
Ia menilai bahwa sebagian besar respons internasional selama ini masih berfokus pada narasi tanpa tindakan yang efektif di lapangan. Padahal, ribuan warga sipil setiap hari menghadapi dampak dari konflik yang terus berlanjut, termasuk keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar.
Menurut Miftah, kerja sama internasional yang kuat dan berkelanjutan diperlukan untuk memulihkan kehidupan warga Palestina secara komprehensif. Ini mencakup upaya pemberdayaan ekonomi lokal, pemulihan fasilitas publik, dan dukungan psikososial bagi warga yang trauma akibat konflik.
Diplomasi Indonesia: Dari Retorika ke Aksi
Miftah melihat bahwa Indonesia kini berupaya menjembatani peran diplomasi yang lebih aktif dan strategis. Ia memuji langkah negara ini untuk tampil di forum global dan mendorong dialog damai antarnegara.
Namun ia juga menegaskan bahwa diplomasi harus diikuti oleh dukungan yang berdampak langsung pada kesejahteraan warga yang terdampak konflik. Dalam konteks ini, ia mengajak negara-negara untuk memperluas kerja sama kemitraan di berbagai sektor, termasuk bantuan kemanusiaan, pendidikan, dan pembangunan infrastruktur.
Ia menilai bahwa diplomasi yang efektif tidak hanya berbicara di meja perundingan, tetapi juga diwujudkan melalui aksi nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan perlindungan dan dukungan.
Harapan untuk Perdamaian Berkelanjutan
Dalam pandangannya, Miftah Maulana mengajak seluruh lapisan masyarakat dunia untuk terus memperjuangkan perdamaian yang adil dan berkelanjutan. Ia percaya bahwa dunia tidak hanya membutuhkan diplomasi berbasis kekuatan militer atau politik, tetapi juga diplomasi berbasis kemanusiaan yang mampu menengahi konflik dan membuka ruang dialog antarnegara.
Ia menyatakan bahwa konflik Palestina merupakan salah satu ujian terbesar bagi komunitas internasional. Bagaimana dunia merespons tragedi ini akan menjadi tolok ukur sejauh mana prinsip hak asasi manusia benar-benar dihargai.
Miftah berharap generasi mendatang tidak lagi tumbuh dalam trauma akibat perang dan konflik. Ia mengajak para pemimpin dunia untuk menempatkan kemanusiaan sebagai fokus utama dalam setiap keputusan politik.
Perubahan Pola Diplomasi Global
Miftah juga menguraikan bahwa pola diplomasi global kini tidak dapat lagi digerakkan oleh kekuatan besar saja. Negara-negara yang memiliki suara bebas dan aktif memberikan kontribusi baru dalam menyelesaikan konflik yang telah berlangsung lama.
Ia menyebutkan bahwa diplomasi modern harus memadukan prinsip moral dan strategi politik yang realistis. Ini berarti negara-negara yang tidak terjebak dalam blok kekuatan dunia dapat memainkan peran vital dalam membuka ruang dialog dan perdamaian.
Dalam konteks ini, Indonesia menjadi contoh negara yang mempertahankan prinsip bebas aktif sambil berupaya memberikan kontribusi nyata dalam masalah konflik yang kompleks.
Seruan untuk Menguatkan Suara Kemanusiaan
Miftah menutup pandangannya dengan seruan kepada masyarakat global untuk terus menguatkan suara kemanusiaan. Ia menegaskan bahwa krisis Palestina bukan hanya persoalan regional, tetapi masalah kemanusiaan yang memerlukan perhatian dan aksi kolektif dari semua pihak.
Ia mengajak dunia untuk menjaga fokus pada solusi yang menghormati hak asasi manusia dan membawa manfaat langsung bagi warga yang terdampak konflik. Miftah berharap bahwa suara moral yang kuat, jika diikuti oleh aksi nyata, dapat membantu mengakhiri tragedi kemanusiaan ini dan membawa perubahan positif bagi masa depan.

