Berita ViralBisnisBlog

Rupiah Pagi Ini Menguat ke Rp16.744 per Dolar AS: Analisis Menyeluruh Pasar Valuta Asing

beritadunia.id — JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis pagi, 26 Februari 2026, mencatat apresiasi signifikan. Kurs rupiah bergerak menguat 56 poin atau sekitar 0,33 persen menjadi Rp16.744 per dolar AS, naik dari posisi penutupan sebelumnya di sekitar Rp16.800 per dolar AS.

Penguatan ini sekaligus membawa kembali arah pasar setelah beberapa waktu terakhir mata uang domestik sempat berada di level yang lebih lemah terhadap dolar, akibat tekanan pasar global dan ekspektasi suku bunga tinggi di AS.

Sorotan Pembukaan Pasar: Kuat di Awal Perdagangan

Pergerakan positif rupiah terjadi sejak sesi pertama perdagangan valuta asing di Jakarta, yang dipengaruhi oleh dinamika pasar keuangan global dan sentimen domestik. Penguatan sebesar 0,33 persen memang terlihat modest secara angka, namun secara psikologis memperlihatkan adanya perbaikan setelah beberapa hari tekanan dari pergerakan dolar yang kuat.

Sentimen investor lokal mulai menunjukkan minat kembali memasuki aset berbasis rupiah, terutama saham dan obligasi yang sempat berada di zona berhati-hati akibat ketidakpastian kebijakan moneter global.

Analis pasar uang mengamati bahwa kombinasi antara stabilitas ekonomi domestik dan perubahan persepsi pelaku pasar terhadap risiko US dollar menjadi faktor utama apresiasi awal rupiah hari ini.

Faktor Utama Penguatan Rupiah

Menurut Kepala Ekonom sebuah lembaga perbankan besar di Indonesia, salah satu faktor yang memberikan tekanan positif terhadap rupiah adalah reaksi pasar terhadap kebijakan perdagangan dan tarif Amerika Serikat (AS).

1. Ketidakpastian Kebijakan Tarif AS

Pasar global masih mencermati sikap pemerintah AS terkait kebijakan tarif yang berpotensi berdampak luas terhadap arus barang dan modal internasional. Pernyataan pejabat AS belakangan yang menegaskan komitmen mempertahankan dan bahkan memperluas kebijakan tarif membuat permintaan terhadap dolar sedikit melemah. Kondisi ini memberi ruang bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah untuk menguat.

Secara logika, ketika sentimen terhadap dolar sedikit menurun karena potensi hambatan perdagangan global, investor akan mencari alternatif yang memberikan imbal hasil lebih stabil — salah satunya aset Asia termasuk rupiah.

2. Daya Tarik Pasar Regional

Selain itu, pergerakan mata uang Asia lainnya pada periode yang sama menunjukkan tren variatif namun cukup mendukung. Beberapa mata uang seperti yuan China, won Korea Selatan, dan dolar Singapura mencatat pergerakan yang positif terhadap dolar AS, mencerminkan bahwa risiko global mulai sedikit mereda, setidaknya di pasar Asia.

Penguatan regional ini menunjukkan bahwa rupiah tidak bergerak sendirian, melainkan mengikuti pola perbaikan valuta di kawasan Asia.

3. Dukungan Fundamental Ekonomi Domestik

Fundamental ekonomi Indonesia, seperti pertumbuhan ekonomi yang stabil, neraca perdagangan surplus, serta konsumsi domestik yang kuat selama beberapa kuartal terakhir juga menjadi pilar yang menopang rupiah. Meskipun tekanan dari ekspektasi suku bunga AS tidak sepenuhnya hilang, pertumbuhan domestik yang solid memberi dasar yang kuat bagi nilai tukar rupiah.

Bank Indonesia selama beberapa pertemuan kebijakan moneter memilih untuk menahan suku bunga acuan pada tingkat yang sama, sambil terus memantau tekanan eksternal terhadap nilai tukar. Keputusan ini mencerminkan fokus otoritas moneter dalam menjaga stabilitas nilai tukar tanpa mengabaikan aktivitas ekonomi domestik.

Pergerakan Dolar AS: Melemah Tipis, Berimbas pada Rupiah

Nilai tukar dolar AS terhadap berbagai mata uang dunia pada Kamis pagi juga mencatat tekanan yang relatif lebih rendah daripada pekan sebelumnya. Data pasar menunjukkan dolar AS mencatat pelemahan terhadap beberapa mata uang utama, termasuk euro dan dolar Singapura, meskipun tidak secara drastis. Hal ini memperlihatkan pergeseran kecil dalam preferensi risiko global yang berimbas pada pelemahan indeks dolar dan membantu rupiah menguat.

Situasi ini berbeda dari kondisi beberapa hari sebelumnya, ketika data ekonomi AS menunjukkan potensi bahwa suku bunga acuan bisa bertahan di level tinggi lebih lama, yang cenderung menjadi tekanan terhadap rupiah. Namun, pada perdagangan pagi ini, dolar menunjukkan performa yang sedikit melunak sehingga memberikan ruang penguatan bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Apa Artinya Ini untuk Pasar Domestik?

Aset Modal dan Ekuitas

Penguatan rupiah turut memberikan sentimen positif terhadap pasar modal domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan tercatat mengalami peningkatan, mencerminkan adanya optimisme investor terhadap pergerakan ekonomi dalam negeri di tengah kondisi global yang fluktuatif.

Kebijakan Moneter Indonesia

Bank Indonesia kemungkinan akan tetap bersikap hati-hati. Dalam berbagai pernyataannya, otoritas moneter menegaskan komitmen stabilitas nilai tukar dengan tetap mempertimbangkan kondisi inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ini menjadi salah satu landasan mengapa rupiah mulai menunjukkan tren menguat di perdagangan pagi ini.

Dengan kondisi global yang belum sepenuhnya stabil — terutama terkait kebijakan fiskal dan moneter di ekonomi besar seperti AS — Bank Indonesia diharapkan tetap fleksibel dalam mengambil langkah kebijakan jumlah suku bunga maupun intervensi pasar jika diperlukan.

Prospek Nilai Tukar Rupiah ke Depan

Melihat dinamika saat ini, prospek nilai tukar rupiah masih bergantung pada dua faktor utama: perkembangan ekonomi AS dan respons kebijakan moneter global.

Jika dolar AS tetap berada di bawah tekanan akibat kebijakan perdagangan dan selera risiko investor yang meningkat, rupiah berpotensi melanjutkan apresiasi atau setidaknya stabil di kisaran yang lebih kuat.

Namun, jika data ekonomi AS kembali menunjukkan kekuatan yang mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga, mata uang Garuda bisa kembali mengalami tekanan.

Secara teknikal, para analis menilai rupiah saat ini berada dalam kisaran riziko moderat sehingga pergerakan di sekitar Rp16.700–Rp16.900 per dolar AS menjadi zona yang paling mungkin terjadi dalam beberapa hari mendatang.

Kesimpulan

  • Nilai tukar rupiah pada Kamis pagi menguat ke Rp16.744 per dolar AS, mencerminkan respons positif pasar terhadap sentimen global yang sedikit berubah.
  • Faktor penguatan utama meliputi sentimen kebijakan tarif AS, dinamika pasar Asia, dan fundamental ekonomi domestik.
  • Pergerakan dolar AS yang melemah tipis turut membantu rupiah menguat, meskipun risiko masih ada terkait kebijakan moneter AS.
  • Prospek rupiah tergantung pada data ekonomi global dan kebijakan moneter internasional dalam jangka menengah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *